Oleh: Tsani Mutia
Judul : Shafa, Saatnya Tunarungu Bicara
Pengarang : Eimond Esya
Penerbit : Memoira (2009)
Buku ini memang bukan rilisan baru tapi kisah yang diceritakan buku ini sangat inspiratif dan takkan lekang ditelan zaman. Kisah ini tentang seorang gadis muda penyandang tunarungu berat yang hanya berdaya tangkap suara 110 Decibel atau jarak sejauh 10 meter dari mesin pesawat yang sedang berputar. Shafa mengisahkan bagaimana asal mulanya ia terkena vonis “tuli berat” serta suka-dukanya semasa kecilnya yang berkaitan kekurangannya. Di sini juga dipaparkan bagaimana perjuangan orang tuanya dalam upaya menyembuhkan pendengaran Shafa yang terkadang bersifat “ekstrim” dan “unik”. Yang pada akhirnya keluarganya harus menerima nasibnya namun hal ini bukan berarti mereka lantas berputus asa. Justru mereka berjuang menempuh cara lain yakni berupaya agar Shafa bisa hidup normal dengan cara mengajarkannya bicara layaknya orang normal berbicara. Mereka pun menolak metode pembelajaran yang umumnya diajarkan di SLB. Meski jaraknya jauh bolak-balik Cimahi-Bandung, tidak menyurutkan semangat Shafa untuk mengikuti terapi bicara di sebuah rumah sakit terkemuka. Shafa, meskipun menyandang tunarungu berat adalah seorang gadis cilik biasa yang ceria, penuh semangat dan punya ke-ingin tahu-an yang besar. Kini ia tumbuh menjadi gadis yang cerdas, bersahabat dan hobi main drum bahkan merupakan salah seorang pelajar berprestasi di sekolahnya.
Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, lucu dan mengharukan serta mudah dibaca dan dipahami. Disertakan pula beberapa dokumentasi foto2 masa kecilnya Shafa yang mempertegaskan akan kisahnya sehingga tak diragukan lagi bahwa ia memang penyandang tunarungu.
Kebetulan aku juga menyandang tunarungu namun pendengaranku tidak seberat Shafa. Menyelami kisahnya cukup memberiku gambaran bagaimana kehidupannya sebagai penyandang tunarungu berat. Tetapi secara keseluruhannya kisah ini cukup memberi inspirasi dan motivasi bagi para orang tua anak penyandang tunarungu maupun penyandang tunarungu. Maka buku ini patut direkomendasikan bagi siapapun yang ingin tahu bagaimana metode pengasuhan anak penyandang tunarungu. (Disadur atas seizin penulis Tsani Mutia/Sandra Pearl di http://id.shvoong.com/)







