Oleh: Mahardhika Utama
“Dengan merekam demo terlebih dahulu, lalu dilempar ke radio, otomatis orang jadi banyak tahu tentang kita dan mudah-mudahan tawaran manggung juga datang sendiri”
Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar kata “Cardio” ? Biasanya, otak kita akan segera merespon pada sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan atau mungkin sebagian dari kamu mulai membayangkan ruangan fitness. Tapi apa jadinya bila kata tersebut adalah nama dari sebuah band dengan roots punk yang cukup kental? Yup, betul sekali Cardio yang ini adalah band pop punk asal Kota Bandung beranggotakan vokalis sekaligus pemain gitar Galih Hendaris, pemain bass Gian Hendaris dan penggebuk drum Bob Melodica. Band yang juga dibantu oleh Dani Irjayana (Gaspoll) sebagai additional guitarist ini beberapa waktu lalu baru saja melempar single pertamanya yang berjudul SMA. Tidak butuh waktu lama bagi band yang baru terbentuk bulan Desember tahun lalu ini untuk membuat lagu mereka meraih airplay yang cukup tinggi di beberapa radio. Hal tersebut cukup membuat saya penasaran, sebenarnya seperti apakah penampakan dalang dari pemilik chart no 1 di beberapa radio swasta kota Bandung ini.
Ah, beruntung sekali rasanya bisa menemui mereka tanpa banyak kesulitan, tanpa birokrasi berbelit selayaknya menemui artis yang sedang naik daun, tanpa banyak ba-bi-bu, dengan satu kali deal via media jejaring sosial, maka bertemulah saya dengan Cardio siang itu di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) yang juga ternyata tempat pertama kali band ini dipertemukan. “Saya dan Gian pertama kali ketemu Bob disini” ujar Galih membuka obrolan. Galih dan Gian adalah kakak beradik penyuka musik punk yang baru saja kembali dari studinya di negeri Kangguru, mereka sudah memiliki materi musik namun sayang tidak punya band. Setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah air maka tidak banyak koneksi dengan komunitas musik di Bandung yang mereka tahu, hingga sampailah kakak beradik ini bertemu dengan kawan lama mereka di konser Rufio beberapa waktu lalu di Score Ciwalk Bandung. Setelah mencurahkan keluh kesah serta obsesi mereka untuk membuat band pada kawan yang belakangan diketahui adalah Tomi (owner Linoleum Record & Distro), akhirnya diarahkanlah mereka untuk menemui Bob, seorang instruktur drum di RMHR yang juga mantan penggebuk drum dari band pop punk lokal influental, Close Head. “Di pertemuan pertama kita disini, mereka (Galih & Gian, red) udah bawa materi yang ternyata saya juga suka. Menurut saya materinya bagus-bagus tinggal masalah aransemen aja” kata Bob yang juga cocok dengan visi Galih dan Gian untuk selanjutnya membentuk Cardio. By the way, kenapa namanya Cardio? Sebenarnya jika kalian melihat langsung perawakan sebagian dari mereka memang cukup mencerminkan orang yang sering melakukan Cardio Training dan tampak rajin menjambangi tempat fitness. “Cardio itu dari bahasa Greek yang arti harfiahnya jantung. Nah, arti nama untuk band ini secara filosofis mungkin semacam jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, seperti halnya musik Cardio yang juga ingin memompa semangat para pendengarnya” ujar Gian berusaha mencari koneksi dari nama band mereka. “Cardio juga ingin menunjukan kalau anak band, mau punk atau apapun bisa hidup sehat dan rajin berolahraga” Galih menambahkan. Yup, musisi dengan gaya hidup sehat merupakan wacana yang cukup bagus dan patut ditiru, bukan?
Banyak terinspirasi oleh berbagai macam jenis musik diantaranya musik yang dihasilkan oleh Blink 182, The Ataris, NOFX, musik-musik racikan Jepang, dll, Cardio memantapkan diri untuk memainkan musik punk dengan sentuhan pop yang cukup kental, so-called Pop Punk. Sejak pertemuan pertama mereka di RMHR itulah mereka mulai giat berlatih, menulis lagu dan merekamnya menjadi sebuah demo. Tidak seperti band-band lain yang giat mencari panggung untuk menambah jam terbang, Cardio lebih memilih untuk mengenyampingkan hal tersebut. “Dengan merekam demo terlebih dahulu, lalu dilempar ke radio, otomatis orang jadi banyak tahu tentang kita dan mudah-mudahan tawaran manggung juga datang sendiri” kata Bob sambil diiring tawa rekan-rekannya sesaat setelah menjelaskan salah satu strategi yang diterapkan oleh Cardio. Usaha tersebut memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan.
Single pertama mereka yang berjudul SMA terus diminta penikmat musik kota Bandung baik di media jejaring sosial http://reverbnation.com/cardiosound yang menyediakan fasilitas unduh gratis maupun di radio-radio swasta Kota Bandung dan beberapa radio kota lainnya semisal Jakarta, Yogya, Makassar, dll. Bahkan saking tingginya airplay lagu mereka di radio, single SMA ini menjadi top request dan marangsek ke puncak chart di beberapa radio tersebut. Hats off, guys.
SMA sendiri merupakan sebuah lagu dengan lirik manis nan lugas yang diolah dengan cerdas sehingga berpotensi untuk menjadi sebuah lagu yang mudah diingat dan mungkin akan menjadi mesin pengingat kenangan masa SMA. Setidaknya itu berlaku untuk saya dan beberapa testimonial yang saya baca di jejaring sosial tentang lagu ini. “Waktu saya nulis SMA, saya ngebayangin saat kita perpisahan kelas 3 lalu coba mereview apa aja yang terjadi selama 3 tahun di SMA. Mulai dari ketemu temen baru, punya pacar, putus, dan segala macem kenangan yang tersimpan, juga cita-cita yang masih belum terwujud semasa SMA yang lalu saya tuangin ke lagu itu” ujar sang penulis lagu Galih yang sepertinya merekam dengan baik memorabilia semasa SMA-nya.
Ketika kita berbicara pop-punk, terlebih di scene pop-punk kota Bandung saat ini maka akan teringat dengan beberapa ikon pop-punk hari ini semisal Rocket Rockers, Buckskin Bugle, Nudist Island dan ataupun Close Head. Maka nama terakhir yang saya sebutkan tampaknya memiliki sedikit kemiripan dengan Cardio dari segi ke-khasan aransemen musik. “SMA dari @cardiosound mengingatkan saya pada perkawinan warna musik Close Head dengan Peterpan”, tulis seseorang di akun Twitternya saat memberi testimoni untuk lagu SMA. Terkadang kita memang harus mendengar (selain pendapat sesama musisi, red) pendapat orang awam yang tidak mengerti musik untuk memahami musik itu seperti apa. Dan itulah yang menjadi dasar dari opini saya diatas. Apakah faktor Bob yang notabene merupakan ex-line up Close Head? Atau faktor Lam-lam (bass-vokal Close Head) yang belakangan diketahui menangani Cardio pada proses mixing dan mastering demo mereka? Ah, tapi buat saya sih perduli setan dengan kemiripan selama lagu itu enak didengar dan tidak secara tok dijiplak mentah-mentah, kenapa tidak? Namun bukan berarti kemiripan itu mengenyampingkan sisi orisinalitas bermusik Cardio. Di materi demo berisi 3 lagu yang juga bisa kalian dengar di akun Reverbnation, kita bisa sama-sama menilai karakter pop yang kuat terutama dari sisi vokal dan lirik yang tentunya dibalut dengan beat menghentak sebagai perwakilan divisi punk yang tidak begitu rumit ketika pertama kali didengar. Sejujurnya untuk saya pribadi materi-materi mereka merupakan tipikal yang simple namun sulit ketika dimainkan. Bila jeli, kalian akan menemukan beberapa fill-in drum yang cukup sulit ditambah beberapa ketukan tanggung yang ganjil pada sesi drum yang dimainkan Bob.
Ketika ditanya akan dibawa kemana band ini, Bob mewakili rekan-rekannya akan membiarkan proses bermusik mereka mengalir seperti air. “Kalau misal ada tawaran dan cocok sama kita, ya kenapa enggak? Tapi kalaupun enggak bisa disana ya kita jalan aja” kata Bob menanggapi pertanyaan saya tentang peluang musik mereka yang disanyalir mampu menarik para pemilik modal di major label. Sedangkan harapan personil lainnya yang diwakili Gian sang pembotot bass tidak begitu muluk-muluk selain ingin karya mereka dikenal dan mudah-mudahan dikenang orang untuk waktu yang lama. “Kalau saya pengen deket seperti kerabat dengan mereka yang suka musik kita dan impian pribadi saya ingin main bareng Blink” ujar Galih yang ditanggapi dengan tawa dan komentar-komentar konyol personil lainnya.
Namun yang pasti pekerjaan rumah terdekat mereka selain meladeni berbagai tawaran manggung adalah tentunya merampungkan album perdana mereka. Belum ada kepastian detail kapan album mereka akan rilis, namun yang pasti mereka menargetkan tahun ini sudah bisa rampung. Gatal rasanya ingin tahu apakah album mereka nantinya akan dirilis secara fisik atau justru direlakan begitu saja terhadap tekanan kultur unduh gratis yang marak belakangan ini? Atau mereka akan menyerah pada kultur musik RBT friendly yang terkadang berujung pada tersisihnya idealisme si musisi. Galih mengatakan untuk hal itu, ia akan mencoba untuk membaca perkembangan pasar nanti, apakah akan dirilis secara fisik, free download, atau mungkin keduanya. Lantas ia pun mencoba membuat suatu perbandingan tentang kultur industri musik Indonesia dan Australia yang pernah menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu lalu, “Di Aussie itu band lokal sedikit dan cenderung monoton, tapi disana toko cd banyak. Orang-orang lebih senang membeli cd ketimbang mendownload meskipun itu gratis. Di toko cd, isi rilisannya didominasi sama musik luar, band lokalnya bisa cuma sedikit. Nah itu terbalik dengan disini yang punya banyak talenta bagus tapi sayang sisi moral dalam mengapresiasi karyanya agak kurang” lanjut Galih panjang lebar membandingkan. Dan bila harus diakui, hal itu memang jelas terjadi di negeri kita tercinta ini. Sedangkan soal tekanan pasar, Bob menanggapinya dengan santai, “Saya pribadi tau caranya bikin musik yang bagus, saya tau caranya bikin musik yang jelek, tapi saya gak tau caranya bikin musik yang laku. Jadi intinya kita akan berkarya aja sih semaksimal mungkin” kata Bob diamini oleh rekan-rekan lainnya.
Well, tampaknya kalian harus waspada dengan kehadiran pendatang baru yang berpotensi menjadi band dengan predikat “Bahaya” yang satu ini. Bila harus kami rangkum deskripsi panjang lebar tentang band yang satu ini mungkin akan seperti ini…Cardio, pop punk racikan ruang fitness yang menghentak, energik, dan bergaya hidup sehat. So, can’t wait to see you on da stage, Guys!









.band inii pnahh pake’ tiranii jdii model video klip ny gag??
.thx
Memakai Tirani sebagai model adalah strategi dari Cardio untuk membuat namanya dikenal oleh masyarakat luas. Sayang materi musiknya kurang diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
memanfaatkan ketenaran orang untuk melejitkan sebuah nama band,, strategy yang cemerlang, namun tak diiringi dngan bandnya..