Oleh: Hery Wibowo, S.Psi., MM
Miun mendesah, “luar biasa..”. Dihadapannya tampak hamparan pasir putih halus dan bersih tanpa kotoran kertas, plastik dll membentang dari ujung horizon barat ke timur. Sebuah pantai yang sangat landai, sehingga mungkin seseorang dengan tinggi normal dapat berjalan tanpa tenggelam sampai sejauh 70-90 meter menuju laut. Tidak hanya pasirnya yang selembut sutra, kawasan ini juga dihiasi dengan batu-batu besar berukuran mulai dari lemari baju sampai rumah tipe 21. Ratusan batu-batu raksasa berwarna abu kehitaman ini berserak dari mulai bibir pantai sampai radius jarak 100 meter ke arah laut. Konon batu ini berasal dari letusan gunung berapi ratusan tahun yang lalu. Walaupun tidak ada yang tahu pastinya. Namun yang jelas kehadirannya menambah eksotik pantai yang diberi nama Pantai Parai ini, karena keberadaannya yang tidak teratur –ada yang berkumpul dan ada yang terpisah sendiri- justru menambah kesan alami. Kawasan ini terletak di Kabupaten Bangka sekitar 50 menit perjalanan darat dari ibu kota propinisi Bangka Belitung, Pangkal Pinang.
Miun kembali menghela nafas, karena ternyata investor yang menangani pantai ini telah melengkapi kawasan tersebut dengan cottage-cottage berbagai ukuran, ruang pertemuan, ruang makan, kafe, lapangan volley pantai dengan tribun penontonnya dan yang sedang dibuat; landasan helikopter. “Luar biasa” gumamnya dalam hati. Inilah propinsi baru yang sedang menggeliat. Inilah kawasan penghasil timah yang sedang mendorong dirinya keatas untuk dapat sejajar dengan propinsi lain. Dengan potensi pantai plus air laut yang bening dan jernih, tidak berlebihan jika pulau ini dapat menjadi Bali ke dua di Indonesia. Dengan wisata kuliner ikan dan makanan laut dengan bumbu lokal, kawasan ini juga dapat menjadi kompetitor wisata bahari di Losari Makasar. Inilah kekayaan Indonesia yang tidak akan pernah habis digali. Inilah potensi yang belum sepenuhnya tersentuh untuk dikembangkan. Dan inilah intan permata yang menunggu digosok, dipahat dan dipoles oleh sang pakar.
Sambil duduk diatas salah satu batu yang lonjong terlentang, pikiran Miun kembali melayang ke pelajaran yang ia dapat dikantor tempat ia bekerja. Ia terngiang-ngiang kata-kata bijaksana dari gurunya, yaitu bahwa setiap tempat, kantor, lembaga, hewan atau pendek kata pada setiap mahluk, selalu terdapat potensi dan masalah. Potensi adalah peluang untuk berkembang secara maksimal, sementara masalah adalah hal yang berpotensi memperkecil peluang tersebut untuk berkembang sedara optimal. Pantai ini adalah potensi terpendam dari kawasan yang terletak di sisi pulau Sumatra ini. Inilah sumber daya alam yang menunggu digali dan ditumbuhkembangkan. Area tepi laut tenang yang eksotik, waktu tempuh yang hanya sekitar dua jam dari Jakarta (termasuk perjalanan darat), penduduk yang giat berwirausaha mengembangkan kearifan lokalnya, hanyalah merupakan bagian kecil dari potensi daerah yang perlu diasah.
Bosan duduk diatas batu, Miun kemudian berjalan menyusuri pantai yang berlaut biru dan bening tersebut. Beberapa umang (sejenis kerang kecil) dilihatnya sedang bermain-main dibawah terik mentari. Seekor kadal berlari dari satu tumpukan batu ke tumpukan lainnya. Namun semua itu tidak menarik perhatian Miun. Pandangannya melekat pada siluet dirinya yang terpantul di beningnya air pantai. Ia memperhatikan dirinya.
“Sebenarnya apakah potensi yang saya miliki?” tanyanya dalam hati. Rupanya pikirannya masih belum beranjak dari konsep potensi dan masalah yang diterangkan oleh gurunya tersebut. Miun berpikir bahwa selama ini belum ada yang dapat dibanggakan dari dirinya dalam arti belum ada potensi yang betul-betul dikembangkannya. Tanpa sadar ia mulai membuat perhitungan neraca potensi pribadi (1) Kemampuan bahasa Inggris; pas-pasan, (2) Komputer; ala kadarnya, (3) Kemampuan berpikir konseptual; masih belum stabil, (4) Kemampuan menyanyi; masih membuat orang lain tutup telinga,dll. Sambil membenamkan kaki hitamnya ke dalam air, ia kembali merenung,”Rupanya saya masih tergolong orang yang memiliki masalah lebih besar dari potensi. Coba sekarang saya coba hitung neraca masalah yang saya miliki”, gumamnya dalam hati,”(1) Males belajar, (2) Tukang tidur, (3) Jarang membaca buku, (4) Kurang serius jika mendengarkan dosen, (5) Masih sering menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna dan lain-lain, dan masih banyak lagi”
Pandangannya kemudian tertuju pada bangunan utama hotel Parai. Disisi kiri dari bangunan bernuansa kayu tersebut ada kolam renang yang didesain dengan gaya Yunani. Di lima sisi kolam tersebut ada patung dewi cilik yang memegang gentong air, yang mengucurkan airnya tanpa lelah, sehingga membuat air kolam beriak-riak. Disalah satu sudut dari kolam prisma itu ada bangunan luncur untuk bermain anak-anak. Sambil mengagumi kolam renang yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dengan bibir pantai itu, Ia terngiang pembicaraannya dengan salah satu pegawai pemerintah daerah yang ditemuinya kemarin sore.
“Pemilik hotel ini masih berusia cukup muda. Ia orang yang sangat ambisius dan tidak pernah lelah mengejar cita-citanya. Beberapa tahun yang lalu pantai ini belum banyak diketahui oleh orang banyak, namun ia menangkap potensi yang luar biasa dari pasir putih halus dan ombak yang tenang ini. Selanjutnya, mudah ditebak, ia melakukan berbagai usaha dari A sampai Z sehingga hotel Parai yang lengkap dengan fasilitas yang –paling tidak- setara dengan hotel bintang empat ini tercipta. Hasilnya, bisa dilihat sendiri, hampir seluruh tamu-tamu besar dari domestik maupun mancanegara selalu menyempatkan diri untuk menginap di sini, sehingga tingkat huniannya selalu diatas rata-rata”
Miun kembali melihat bayangan dirinya di air. Ia seperti melihat pria paruh baya yang sedang bingung. “Lihatlah dirimu Miun” ucapnya dalam hati, “Karya besar apa yang sudah kamu hasilkan? Orang lain yang kurang lebih seumur denganmu sudah mengubah pantai berbatu ini menjadi berlian, sedangkan kamu? Hari-harimu masih berisi keluhan dan keluhan. Keluhan tentang gaji yang tidak seberapa, motor yang sering kempes, kemacetan lalu lintas, komputer yang sering rusak dan lain-lain. Pernahkah kamu memikirkan bahwa sesungguhnya potensi yang kamu miliki jauh diatas itu. Mana Miun yang selalu tiga besar saat sekolah dulu? Mana Miun yang katanya punya cita-cita membuat Bandung menjadi Training City? Kamu kalah Miun, kalah sebelum berperang..” Nurani Miun terus berkicau. Ia menyepak air dikakinya sehingga beberapa riak ombak tercipta, menciptakan ombak kecil yang menjauh dan berangsur menghilang. Setelah airnya kembali tenang ia kembali melihat umang yang sedang berjuang melawan ombak untuk dapat merapat kepantai. Seluruh kakinya dikeluarkan dari rumahnya untuk dapat menahan aliran ombak kecil itu. Ia tampak kepayahan namun jelas sekali terlihat bahwa semangatnya tidak pernah padam. Berkali-kali ombak menyeretnya, namun ia selalu berusaha melawannya.
Miun seperti terkecat dengan pemandangan itu. Tangannya kemudian mengeras membentuk kepalan tinju. “Oke aku akan bangkit. Aku ingat bahwa kesuksesan seseorang bukanlah diukur dengan membandingkan seorang individu dengan orang lainnya, melainkan bagaimana pencapaian individu tersebut dibandingkan dengan optimalisasi potensinya. Umang tersebut sama sekali tidak pernah membandingkan dirinya dengan umang yang lain, namun setiap hari ia selalu memaksimalkan potensinya untuk dapat bertahan hidup. Artinya, kesuksesan seseorang bukanlah ketika dia menjadi lebih kaya secara materi dengan rekan sebayanya, namun seberapa jauh ia dapat mengembangkan potensinya, sehingga ia hidup tenang dan damai dari keringatnya”. Miun kembali menggoreskan tekat di lempengan hatinya. “Hai bayangan di air” ujarnya pada siluet dirinya di pasir yang tertutupi air laut itu,”kamu adalah saksi kebangkitan saya hari ini. Saya akan bangkit, karena mengeluh tidak ada gunanya. Sekali lagi,mengeluh tidak ada gunanya. Bayangkan jika umang itu mengeluh dan menyerah, maka ia akan terbawa laut selamanya. Masalah bukan untuk diratapi melainkan untuk dihadapi dan dicarikan jalan keluarnya. Potensi bukan untuk didiamkan, melainkan untuk dilecut, dilatih dan diledakkan. Beda antara orang yang sukses dan tidak sukses hanya setipis kertas. Orang yang sukses melakukan sedikit lebih banyak dari yang dilakukan orang yang tidak suskses. Orang yang sukses belajar 10 kali sehari, sementara orang yang tidak sukses berhenti di angka delapan bahkan enam. Pelari juara dunia dan juara kampung hanya dibedakan oleh hitungan detik. Artinya, jangan berhenti sebelum selesai, jangan menyerah sebelum memulai. Siap grak!








kota bangka adalah kota yg indah tempat dimana aq lahir hehehe jd curhat nich , maksih dapat print dari bude cuniek tulisan dari mas heri okehh bagus .
thank’s info wisata nya…
tempat wisata pantai parai pemandangan nya mank menakjubkan yah?
saya juga mengakui pantai parai mank luar biasa pemandangan nya… hehehehe
artikel nya menarik… thank’s for your share….