Oleh: Mahardhika Utama
Istilah Ujung Berung pun seringkali digunakan untuk mendeskripsikan suatu tempat yang sangat jauh layaknya ujung dunia.
Siang itu saya sedang berada di sebuah lobby kantor di bilangan Jakarta Barat untuk sebuah urusan pekerjaan. Seperti biasa, saya yang berangkat dari Bandung selalu datang kepagian dari waktu yang telah ditentukan. Setelah asyik sendiri membunuh waktu dengan memfokuskan diri ke layar handphone, akhirnya saya memutuskan untuk bersosialisasi dengan dunia nyata. Ya, saat itu di sebelah saya sudah duduk seorang lelaki seumuran saya yang tampak sedang menunggu juga. Maka berbasa-basi adalah hal paling jitu untuk membuka obrolan.
Setelah berkenalan dan menjelaskan maksud serta tujuan masing-masing, teman baru saya yang bernama Deri itu bertanya tentang daerah tempat tinggal saya di Bandung. Kontan saya menyebutkan dengan bangga nama daerah dimana saya tinggal, Ujung Berung. Sontak ia yang berasal dari Bekasi itu tertawa agak terbahak. “Emang ada ya daerah namanya Ujung Berung?” tanya ia di sela tawa. Setengah kesal saya pun coba menjelaskan bahwa daerah bernama Ujung Berung itu memang ada dan terletak di bagian timur Kota Bandung.
Saya pun teringat anekdot teman-teman semasa kuliah yang berasal dari Jakarta tentang Ujung Berung yang mereka pikir adalah sebuah istilah. “Bla bla bla dari Ujung Berung?” atau “Kejar noh ke Ujung Berung”, yang kurang lebih mirip dengan anekdot semisal, “Bla bla bla dari Hongkong?”. Istilah Ujung Berung pun seringkali digunakan untuk mendeskripsikan suatu tempat yang sangat jauh layaknya ujung dunia.
Di mata orang Jakarta, Ujung Berung memang tidak sepopuler daerah lainnya seperti Dago atau Lembang yang tidak jarang menjadi wilayah yang wajib didatangi ketika mengunjungi Bandung. Uniknya, banyak warga “021″ hingga hari ini mengira Ujung Berung adalah sebuah istilah lucu. Maka tidak mengherankan bila banyak dari mereka yang kaget ketika mengetahui Ujung Berung adalah sebuah daerah di Kota Bandung.
Mungkin mereka akan lebih kaget lagi ketika mengetahui Ujung Berung memiliki banyak potensi di bidang seni baik seni tradisi maupun kontemporer.
Pada divisi seni tradisi, Ujung Berung mewariskan sebuah heritage seni beladiri bernama Benjang. Benjang yang sudah kesohor hingga luar negeri itu merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang konon sudah ada sejak tahun 1820 silam. Seni beladiri ini juga menggunakan media musik sebagai penunjang,adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu Sunda.
Sedangkan pada divisi seni kontemporer, Ujung Berung sejak era 90-an terkenal sebagai salah satu peretas budaya metal dan pergerakan komunitas underground Kota Bandung lewat komunitasnya yang terkenal, Ujung Berung Rebels. Dari Ujung Berung yang merupakan leher botol Kota Bandung ini menghasilkan banyak nama band cadas yang kini memiliki pengaruh yang cukup besar untuk komunitas underground nasional, sebut saja Jasad, Sonic Torment, Burgerkill atau Forgotten. Bahkan beberapa nama tersebut telah banyak diulas oleh media nasional maupun internasional karena karya maupun prestasinya. Bisa dibilang, nama Ujung Berung hari ini tidak bisa dilepaskan dengan predikat mereka sebagai produsen musisi metal dan salah satu pendobrak pergerakan underground Kota Kembang.
Dua contoh potensi seni diatas melahirkan anekdot baru untuk Ujung Berung, “Ujung dunia yang kesohor ke berbagai penjuru dunia”.







