Oleh: Mahardhika Utama
Sejak kemunculannya di tahun 1987, film action-drama Catatan Si Boy besutan sutradara legendaris Nasri Cheppy menjadi salah satu catatan sukses sinematografi Indonesia. Saking suksesnya, film yang berawal dari drama radio di Radio Prambors ini dibuat sequel hingga 5 kali. Fenomenal.
Harus diakui Catatan Si Boy dengan Onky Alexander sebagai trademarknya mendapat tempat khusus di kalangan pecinta film Indonesia, terutama anak muda. Sosok Boy yang tampan, tajir, dan party goers yang rajin beribadah itu menjadi sosok ikonik pada masanya. Begitupula dengan berbagai elemen yang terdapat di film ini. Catatan Si Boy sukses menebar “virus” di kalangan anak muda. Virus yang menyentuh berbagai aspek pergaulan anak muda, baik itu aspek sosial, ekonomi maupun budaya yang berkembang saat itu.
Sosial – Ekonomi
Catatan Si Boy menjadi trendsetter istilah slank macam “Cing”, “Yoi”, “Sob”. Istilah slank tersebut memang sangat kentara digunakan dalam setiap dialog film bermodal tinggi ini, dan uniknya istilah-istilah tersebut masih sering digunakan hingga kini sebagai bahasa sosialita kaum muda. .
Film ini, layaknya kisah gejolak remaja di negeri barat, juga menunjukan gemerlap night life, diskotik, romantisme yang di sisi lainnya diimbangi oleh watak-watak religius sebagai penetralisirnya. Ya, begitulah si Boy, anak gaul era 80-an yang erat dengan wanita, dunia malam, konflik, balapan liar, namun tetap rajin beribadah.
Catatan Si Boy adalah “kisah sempurna” anak muda ibu kota, dalam hal ini Boy yang berasal dari status sosial-ekonomi kelas atas. Film ini pun menjadi jendela anak muda kala itu untuk mengenal mobil-mobil yang terbilang mewah. Maklum pada waktu itu akses untuk sekedar tahu informasi otomotif terbilang sulit. Maka tak mengherankan bila BMW seri M40 / E30 yang konon waktu itu hanya ada beberapa unit saja di Indonesia, jadi tunggangan andalan Si Boy dan sempat menjadi mobil impian anak-anak muda. Dunia otomotif memang kental dengan Catatan Si Boy karena adegan balapan liar maupun rally dengan Honda Nouva 1988 itu sudah menjadi satu paket cerita film sukses ini. Uniknya, menurut beberapa sumber yang besar di era 80′an, banyak anak muda pada masa itu yang ingin menjadi seperti sosok Si Boy. “Memiliki apa yang dimiliki Boy adalah sebuah kebanggan,” tutur seorang kawan.
Budaya Pop
Repertoar musik di Catatan Si Boy I hingga V pun menjadi catatan menarik tersendiri. Lagu-lagu macam “Catatan Si Boy” (Ikang Fawzi), “Emosi Jiwa” (Yana&Lita) atau “Terserah Boy” (Atiek CB) menjadi top hits di berbagai radio nasional. Bahkan saking kentalnya unsur musik di film ini, Catatan Si Boy II – IV dibuat album soundtracknya. Hampir seluruh album soundtrack yang diisi oleh lebih dari 10 musisi per albumnya itu pun cukup laku di pasaran. Musik memang menjadi unsur yang penting dalam film, dua unsur itu seperti roti dan mentega yang saling melengkapi.
Pun begitu dengan sisi fashion di film Catatan Si Boy. Tentu masih ingat dong dengan rambut klimis buntu kuda atau gantungan tasbih di mobil BMW M40 E30 Si Boy? Atau baggy pants, high waisted denim pants, cropped tops, cropped jacket and blazer hingga biker’s jacket yang seringkali melekat di tubuh Boy, Emon (Didi Petet), Kendi (Dede Yusuf), Nuke (Ayu Azhari), dll. Film dan fashion memang merupakan hal yang saling berkaitan. Tidak jarang, muncul tren fashion terbaru yang diadaptasi dari film. Film dengan wardrobe menarik serta tokoh-tokoh dalam film yang fashionable seringkali menginspirasi banyak orang untuk meniru look mereka dalam film sehingga look tersebut menjadi tren. Dan, Catatan Si Boy sukses melakukannya. Ya, saat itu fashion di Catatan Si Boy memang sempat menjadi fashion statement kawula muda 80-90′an.
Dari catatan tentang Catatan Si Boy dapat terlihat betapa sebuah film mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan (walaupun tidak semua). Dapat terlihat pula bagaimana Catatan Si Boy menjadi wakil sebuah generasi kala itu (anak muda 80′an). Apakah film regenerasi Catatan “Harian” Si Boy yang keluar baru-baru ini mampu menebar “virus” bak edisi terdahulunya? Silakan nilai sendiri.







