Bumi Sangkuriang Kamis malam (22/7) menjadi saksi kembalinya Risa Saraswati yang dulu dikenal sebagai ikon dari kelompok musik elektronik Homogenic. Namun kembalinya Risa bukan sebagai Risa Homogenic melainkan sebagai penyanyi solo bernama SARASVATI yang meluncurkan mini album (EP) pertamanya yang diberi nama “Story Of Peter”. Yups, nama Sarasvati sendiri diambil dari nama belakang penyanyi yang juga dikenal sebagai penyiar di salah satu radio swasta Kota Bandung, hanya saja penulisannya menggunakan bahasa Sansakerta. Acara ini di organize oleh Port Music (setahun kebelakang masih tergabung di Swingingstars Management) yang didukung penuh oleh Speedytrek. Penonton tidak perlu merogoh koceknya karena dengan cukup registrasi online di website Speedytrek penonton bisa datang dengan gratis. Di launching party Sarasvati, tampaknya Risa enggan tampil sendiri melainkan ingin ditemani oleh Deu Galih and The Folks serta Tiga Pagi yang turut memeriahkan pesta Sarasvati.
Sekitar pukul 7 malam venue Bumi Sangkuriang sudah dipadati pengunjung
yang tentunya penasaran dengan kemunculan wanita yang gosipnya dapat merasakan hal-hal mistis ini. Pukul 8 malam acara benar-benar dibuka oleh penampilan memukau dari Deu Galih And Folks. Proyek solo Galih Su yang dibantu teman-temannya ini membuat musik folks terasa sangat kaya akan nada dan suara. Dengan balutan musik blues dan rock, setiap part dari lagu yang dibawakan Deu Galih And Folks ini menjadi kejutan-kejutan yang ditunggu penonton, baik permainan musik maupun tingkah laku sang vokalis yang beberapa kali menunjukkan kemampuan growlnya di bagian-bagian yang tidak terduga. Malam itu Deu Galih And Folks sempat membawakan cover dari puisi Chairil Anwar yang berjudul (kalo ga salah) Buat Gadis Rasyid. Mereka berhasil menyuguhkan pertunjukkan musik kelas tinggi dengan skill dan musik yang diusungnya, Standing applause for Deu Galih And Folks.
Selanjutnya giliran Tiga Pagi yang tampil. Walaupun posisinya sebagai penampil pendukung di gelaran milik Sarasvati, para penonton tampaknya cukup excited untuk melihat penampilan dari acoustic group yang beberapa waktu lalu pernah menjadi finalis salah satu ajang pencarian bakat yang katanya indie itu. Sulit berkata-kata ketika melihat anak-anak muda yang cinta akan kebudayaan lokalnya seperti Tiga Pagi ini, yups betul mereka mengusung musik acoustic folks Sunda. Tampil santai sambil sesekali menghisap rokok, petikan gitar yang terdengar seperti suara kecapi Sunda bersahutan dengan suara minimailis xylophone menghasilkan perpaduan musik harmonis yang sangat nikmat untuk dinikmati. Membawakan beberapa lagu termasuk lagu berjudul Tangan Hampa Kaki Telanjang, grup yang banyak terinspirasi oleh seniman-seniman Sunda seperti Mang Koko dan Uking Sukri ini membuat penonton ikut menyanyikan lagu tersebut. Musik dengan nuansa tradisional tidak terdengar kuno di tangan anak-anak Tiga Pagi, salut!
Dan ini dia sang pemilik pesta, dalang dari segala keramaian di Bumi Sangkuriang malam itu; Risa Saraswati yang “lahir kembali” sebagai Sarasvati. Dengan menggunakan dress hitam berbalut selendang berwarna biru Sarasvati yang didampingi rekan-rekan band pengiringnya menyapa penonton, “Senangnya kembali ke atas panggung setelah satu tahun absen” dan tanpa banyak basa-basi langung coba memperkenalkan materi di EP perdananya dengan nomor berjudul Cut and Paste. Di lagu ini memang masih terasa warna Homogenic di era ia masih menjadu front lady dari band electropop itu. Nuansa gloomy dan kelam menunjukkan bahwa itulah karakter musik dari Sarasvati. “Senang sekali berada disini, di launching EP saya sendiri, ini cita-cita saya” kata Sarasvati sebelum lanjut ke lagu berikutnya yang berjudul Fighting Club. Masih dengan nuansa yang serupa tapi tak sama terdapat kejutan ketika di pertengahan lagu tiba-tiba terdengar suara dering telepon lalu suara khas berbicara dari balik telepon, suara yang familiar itu tiada lain adalah suara dari Arina Ephiphania yang dikenal sebagai vokalis dari Mocca. “Ini lagu favorit saya dari band bernama Space Astronauts kebetulan orangnya ada disini, Tengku Irfansyah” kata Sarasvati sambil menunjuk pria dibalik laptop programming ketika akan memulai lagu berikutnya yang berjudul Question. Satu nomor romantis dibawakan Sarasvati dengan berduet bersama pria berbadan besar bernama Muhammad Tulus.
Di lagu ke-5 yang berjudul Perjalanan (cover dari duo vokal legendaris Franky and Jane), Sarasvati meminta untuk menggelapkan ruangan. “Bisa digelapkan lampunya, saya ingin mengundang teman kecil saya” Kata Sarasvati sambil diiringi suara piano yang menimbulkan efek spooky. Tiba-tiba dari balik kerumunan penonton muncul sesosok badut anak kecil dengan mata menyala berwarna biru. Sulit menjelaskan kemistisan yang berhasil dibuat oleh tim Sarasvati. Sekali lagi Sarasvati ingin menunjukkan karakter musik sekaligus karakter pribadinya yang memang tidak jauh dari hal-hal mistis. Ya, mistis…Hal itu juga yang melatarbelakangi nama dibalik EP ini, Story Of Peter. Story Of Peter adalah sebuah dedikasi untuk sahabat lama Sarasvati yang sebenarnya cukup sulit untuk dimengerti oleh orang biasa. “Peter adalah teman kecil saya. Notabene, dia adalah makhluk tidak kasat mata yang tinggal di rumah saya pada saat itu. Saya menghabiskan banyak waktu bersamanya dan dia punya peran cukup besar untuk membentuk karakter saya menjadi sekarang ini. Album ini didekasikan untuknya” cerita Risa. Dan tiba-tiba…Sebuah makhluk putih berwajah anak kecil dengan mata menyala muncul dari belakang kerumunan penonton. Sontak saja hal itu membuat para penonton kaget tak karuan. Tapi ternyata itu hanya boneka. “Peter, jangan nakal” kata Sarasvati dari depan panggung. FYI: Menurut pengakuan Sarasvati dari account twitter pribadinya (risa_saraswati) saat mengatakan itu Peter Hendrick William Hans Yanshen yang asli ikut berjalan bersama boneka peter perform art semalam. Whhoooottt?
Jujur saja saya menulis review ini dalam keadaan bulu kuduk merinding, suasana malam itu berubah menjadi agak menyeramkan apalagi saat Sarasvati membawakan lagu berikutnya yang berjudul Bilur. Warna musiknya semakin horror seperti soundtrack di film-filmnya Tim Burton. Di pertengahan lagu tiba-tiba muncul sesosok nenek membawa lilin yang ikut menyinden/nembang Sunda. Tenang, nenek itu berwujud nyata dan memang manusia. Ia adalah Ambu Ida Widawati seorang seniman Sunda yang sudah cukup terkenal. Seolah ingin sedikit mengobati ketakutan penonton, Sarasvati membawakan cover lagu Melati Putih milik seniman Abah Iwan yang diiringi oleh Bohemian Ansamble. Dan konser ini pun ditutup dengan single dari EP ini, Story Of Peter yang diberi encore lagu Boneka Abdi yang entah kenapa lagu anak-anak itu terdengar menyeramkan. Konsep launching yang bagus dari penyanyi berkualitas. Diluar segala kemistisan yang terjadi malam itu, Sarasvati bisa menjadi pelecut untuk munculnya solois-solois lokal baru yang tidak kalah berkualitas seperti apa yang telah dilakukan Risa Saraswati pada EP nya, Story Of Peter. Selamat untuk EP nya dan…selamat anda berhasil membuat penonton ketakutan hehe. (Words by Mahardhika Utama, Photos by Rizki Rahadian)











sayang saya tidak hadir
(
tapi dengan riview ini sayasangat terbantu untuk membayangkan berada disana zzz
gud review dik…
sayang gw baru knal risa dan ep barunya,,
kalo uda tau,,jdi pngen nnton dan merasakan kemistisan acaranya…
aku denger ceritanya aja udah merinding gak karu2an
tapi bagus reviewnya