Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Tak Perlu Jadi Bintang Televisi Untuk Menginjak Dunia

02 Dec Posted by in For Headline | Comments
Tak Perlu Jadi Bintang Televisi Untuk Menginjak Dunia
 

Oleh: Mahardhika Utama

Siapa tak kenal Anggun C Sasmi, solois wanita pemilik 12 album rekaman yang berkiprah sebagai penyanyi kelas dunia. Solois yang memulai kariernya sebagai penyanyi rock itu terus melejit pasca menetap di Paris Perancis dan mendapat kontrak rekaman label internasional dan tour dunia. Lagu Snow On Sahara yang menjadi debut internasionalnya bahkan bertengger di tangga lagu Top 5 UK setara dengan musisi papan atas lainnya. Predikat penyanyi go international pun sukses disandangnya. Begitu juga dengan Agnes Monica, hampir seantero Indonesia mengenal musisi muda dengan talenta luar biasa ini. Belakangan Agnes pun mencoba merambah kancah musik internasional, dan hasilnya tidak mengecewakan. Selain menyabet beberapa penghargaan di ajang musik Jepang dan Korea, ia juga berduet dengan sejumlah musisi andal seperti Michael Bolton dan Keith Martin. Disamping itu, beberapa waktu lalu ia pun menjadi salah satu nominator di MTV Music Europe Award dalam kategori World Wide Act Asia Pacific, meski tidak menyabet titel juara setidaknya prestasi Agnes Monica cukup terdengar di benua biru yang merupakan salah satu barometer musik dunia. Membanggakan, bukan?

Tapi sebetulnya bukan hanya Anggun C. Sasmi dan Agnes Monica saja  musisi yang sudah menapaki predikat go internasional, ternyata masih banyak nama lainnya namun sayang tak terekspos media. Jauh sebelum Anggun, ada The Tielman Brother (era 50-an) yang berkiprah di Belanda, band rock n roll yang kemudian disebut masyarakat dunia sebagai indo-rock itu bahkan diakui George Harrison sebagai salah satu inspirasi musik The Beatles dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone. Selain itu di era 60-an ada juga Dara Puspita yang menginvasi benua Eropa. Atau Bubi Chen, seorang maestro jazz asal Surabaya yang karya-karyanya diakui publik jazz Amerika dan sejumlah negara lainnya.

Sedangkan di era ini ada nama-nama kurang beken lainnya seperti Gugun Blues Shelter, trio beraliran blues asal Jakarta ini bulan Juni lalu baru saja mencicipi atmosfer panggung internasional di event tahunan Hard Rock Calling London Inggris bersama sejumlah musisi internasional seperti Bon Jovi dan Rod Stewart. Tidak cukup disitu, album Solid Ground dari band yang sudah berkali-kali tour di Inggris ini baru saja dirilis oleh label rekaman asal Amerika Serikat, Grooveyard Record. Imbasnya pengakuan para kritikus dan jurnalis musik internasional pun bermunculan dan hampir semua bernada positif. Bahkan Jimmy Ryan dari Truth Squad menyebut musik Gugun Blues Shelter (di Amerika bernama Gugun Power Trio) mengubah pandangan orang Amerika tentang Indonesia. Permainan blues rock yang komplet serta permainan gitar Gugun yang ia sebut “outstanding” tidak pernah ia sangka berasal dari negara kepulauan yang seringkali diwarnai konflik.

Selain Gugun Blues Shelter, ada juga beberapa nama lainnya seperti penyanyi Daniel Sahuleka yang tenar di negeri Belanda, juga grup band pop Mocca yang lagu-lagunya laris di Korea dan Swedia.  Dira Sugandi musisi jazz yang albumnya diproduseri oleh Jean Paul Bluey dari band acid jazz Incognito, atau Josephine Soegijanty / Jojo Draven gitaris rock asal Surabaya yang mendapat penghargaan sebagai gitaris wanita terbaik di negeri Paman Sam Amerika. Atau yang ini, White Shoes And The Couples Company band indie pop yang mendapat respon positif dari media musik internasional seperti NME, Pitchfork dan Rolling Stones pasca penampilan mereka bersama band rock n roll asal Bandung The SIGIT di SXSW Festival Texas Amerika Serikat. Dari divisi musik cadas,  trio punk asal Bali Superman Is Dead menjadi wakil Indonesia di tour musim panas pendekar-pendekar punk rock bertajuk Warped Tour bersama sejumlah musisi cutting edge sekaliber NOFX, The Ataris, dll. Dari divisi yang lebih keras lagi, Indonesia punya Burgerkill yang menghajar sejumlah tour dan ajang prestisius di benua Australia, sebut saja Soundwave Festival bersama Lamb Of God, dan yang lebih hebat lagi mereka pun menjadi salah satu headliner di pentas legendaris Big Day Out Australia bersama sederet musisi kelas dunia. Imbasnya, band yang baru saja merilis album “Venomous” ini dikontrak label Australia dan baru-baru ini mendapat review bagus dari Majalah Metal Hammer. Tak ketinggalan dari musik elektronik pun Indonesia punya duo Angkuy-Nobie dari Bottlesmoker yang sudah mengacak-acak sebagian negara di Asia Tenggara, album musik mereka pun dirilis oleh net label di Eropa, Asia dan Amerika. Hampir semua nama diatas menapakan kakinya di pentas internasional berkat jaringan yang dibangun secara mandiri melalui internet, tanpa banyak bicara di media massa.

Selain daftar musisi diatas, sebetulnya masih cukup banyak lagi musisi lokal yang juga sudah merasakan atmosfer skena musik international, namun sayang musisi-musisi tanah air itu belum banyak diketahui publik dan tersorot kamera media.

Saya yang belakangan ini bekerja di industri media televisi, sempat bertanya pada salah satu atasan di kantor tentang mengapa musisi-musisi cutting edge tidak pernah diliput media, apalagi tampil di acara musik televisi, padahal mereka cukup sering membawa nama Indonesia di kancah dunia. Lalu apa jawaban yang saya terima? “Lah emang mereka siapa? Orang banyak tau mereka gak?” jawab atasan saya sederhana. Kalau saja saya tidak digaji mereka mungkin saya akan melanjutkan perdebatan itu lebih panjang lagi. Dari situ sudah bisa disimpulkan jika media tempat saya bekerja masih berpangku pada prinsip “Suara mayoritas sudah pasti benar”. Akan lebih menguntungkan meliput kepergian band Ungu untuk tampil dihadapan TKI di Malaysia ketimbang meliput persiapan pria-pria gondrong dari Burgerkill yang akan menghajar Big Day Out Australia. Tapi ya begitulah industri televisi kita yang sudah menganggap rating&share bak tuhan yang maha segalanya. “Persetan dengan perubahan, tai kucing keragaman musik, yang penting saya untung,” mungkin itu kalimat yang selalu ada di otak para bos media yang kebanyakan dari mereka adalah petinggi partai politik. Harap dimaklum.

Musisi jazz sekaligus pengamat musik Yoyok CR menyebut media memiliki peranan penting terhadap kemajuan musik Indonesia. “Seharusnya media kita punya tanggung jawab moral untuk memberikan pilihan ke masyarakat, bukan cuma ngasih tontonan yang seragam. Kasih lah kesempatan,” tandas pria yang juga berprofesi sebagai pemain saxophone ini saat ditemui di kediamannya di Bekasi awal November lalu.

Kembali ke topik go internasional, sebenarnya apa definisi dan kriteria musisi go internasional? Di masyarakat sendiri acap kali mengira go internasional itu adalah ketika si musisi bermain diluar negeri, sekalipun atas undangan KBRI dan ditonton para TKI atau mahasiswa Indonesia. Ada juga yang menganggap go Internasional itu ketika seseorang menetap dan berkarya di luar negeri seperti Anggun atau Daniel Sahuleka misalnya. “Kalau sekedar manggung diluar negeri, semua orang kaya juga bisa,” tandas Bowie penggebuk drum Gugun Blues Shelter saat saya wawancara November lalu. Sementara itu ia menjabarkan go internasional ke dalam kualitas, attitude dan performa diatas dan diluar panggung. “Musisi go international adalah musisi yang punya kualitas world class dari kuku sampai rambut,” tambah Bowie.

Pengamat musik Denny Sakrie dalam salah satu tulisannya menyebut bahwa yang patut disebut go internasional adalah ketika sudah menjajal barometer musik dunia macam Amerika atau Jepang (Rumah Musik Denny Sakrie, red). Sementara Yoyok menjabarkan sejumlah kriteria dan contoh untuk mengupas definisi dan parameter go internasional. Ada 2 tipe utama, yaitu “ditemukan” atau “mengajukan diri”. Lantas Yoyok mengambil Cherish (penyanyi Filipina) yang ditemukan oleh David Foster dari jejaring You Tube, juga Dira Sugandi yang ditemukan Bluey di konser Incognito sebagai contoh talenta yang ditemukan. Sementara ia mencomot nama Agnes Monica sebagai contoh penyanyi go internasional yang mengajukan diri dengan berbagai usahanya menembus pasar dunia. Selain itu setidaknya ada 3 parameter sederhana yang digunakan Yoyok untuk menyebut seorang musisi dikatakan pantas disebut go internasional, yaitu; Memiliki produk berkualitas, Dirilis oleh label internasional, dan Diundang secara khusus untuk tampil di event musik skala internasional yang memiliki reputasi. “Bila tiga kriteria itu ada hampir pasti produk si musisi diterima oleh publik internasional,” jelas Yoyok.

“Bukan tipe follower,” adalah kalimat yang keluar dari mulut Yoyok dan menurutnya perlu digaris bawahi, ketika ditanya tentang syarat utama seorang musisi bisa mencuri perhatian publik internasional. “Para praktisi musik di lingkup barometer musik dunia seperti Amerika, Eropa dan Jepang sudah tau mana yang pengikut dan mana yang punya ciri tersendiri,” kata Yoyok seraya menyebut Agnes masih berusaha mencari jati diri sebagai penyanyi Indonesia yang tidak berusaha menjadi Christina Aguilera atau Whitney Houston.

Sepakat atau tidak, Indonesia punya banyak talenta berbakat, meski bukan bintang di layar kaca, nama-nama yang saya sebut diatas nyatanya mampu berbicara banyak di peta musik dunia. Disorot atau tidak, juga nyatanya musisi-musisi lokal kurang terkenal itu mampu bertahan dan terus berkarya. Namun itulah yang disebut tantangan, ada pepatah lama yang menyebut bahwasanya tantangan itu adalah ketika dapat melakukan sesuatu ditengah keterbatasan.

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes