Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Jangan Matikan Lampu RMHR

07 Nov Posted by in For Headline | Comments
Jangan Matikan Lampu RMHR
 

Oleh: Rama Gustamar & Mahardhika Utama

Cukup mengagetkan berita yang sampai ke meja redaksi kami ketika mengetahui bahwa Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) yang bertempat di Jl.WR Supratman No 57 Bandung harus dijual karena satu dan lain hal. Belum ada kepastian kedepannya apakah RMHR bisa di pindahkan atau tidak, tandas putra seniman legendaris alm.  Harry Roesli, Lahami. Artinya kegiatan-kegiatan yang ada di rumah ini terpaksa harus vakum sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Sedikit mengingat dan mengenal lagi pencetus dan pendiri RMHR yaitu Djauhar Zaharsjah Fahrudin Roesli atau yang lebih banyak dikenal oleh masyarakat dengan nama Harry Roesli. Harry Roesli adalah tokoh yang dikenal melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Sebut saja lagu berjudul “Malaria dari album Lima Tahun Oposisi” (1978) atau “Jangan Menangis Indonesia” dari album yang sama namun ditulis pasca beliau keluar dari penjara karena terlibat dalam demonstrasi mahasiswa saat itu, karya-karyanya selalu konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas yang tidak jarang dikemas kedalam watak musik teater.

Beliau wafat karena serangan jantung pada Desember 2004 silam. Bak gajah yang meninggalkan gadingnya, seniman yang menjelang wafatnya makin dikenal sebagai juri kocak di salah satu ajang pencarian bakat itu mewariskan banyak kontribusi terutama di ranah musik tanah air. Pemusik yang memiliki ciri khas dengan rambut gondrong dan pakaian serba hitam ini adalah orang yang peduli dengan anak-anak jalanan dan pemulung di sekitar kota Bandung, beliau mengalihkan aktifitas para anak-anak yang biasa bermain di jalanan itu untuk bermain musik dan berkreatifitas di Rumah Musik Harry Roesli. Kini telah banyak anak-anak binaannya yang tidak lagi bergantung pada koin-koin santunan di lampu merah perempatan jalan, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi seniman andal yang ngamen di ajang-ajang musik bergengsi, televisi dan sebagainya. Setidaknya itu yang kami lihat langsung di Supratman 57. Anak-anak jalanan dilatih secara serius untuk memahami seni baik musik, seni rupa, teater bahkan sebagian ada yang diajari berbagai keterampilan vokasional untuk menumbuhkan kemandirian. “Aki,” begitulah remaja-remaja yang kami temui sekitar tahun 2006 itu memanggil almarhum. Tampak sekali kebanggaan mereka tiap ditanya tentang sosok pemilik album “Cas Cis Cus” ini. Bukannya mengkultuskan, tapi mereka bangga menjadi bagian dari RMHR dengan segala kontribusi yang diberikannya.

Menurut data yang dilansir dari sejumlah media, pada awalnya RMHR adalah rumah pribadi Harry Roesly yang disulap menjadi markas Depot Kreasi Seni Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa. Dimana kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Dan mungkin karena fokus kegiatan pada tempat ini adalah musik, maka nama tempat ini pun dinamakan Rumah Musik Harry Roesli. Kegiatan yang dilakukan di rumah ini diantaranya adalah pendidikan musik non formal, laboratory eksperimental musik, event komuniti musik sebagai media apresiasi dan eksistensi, serta workshop musik untuk menambah wawasan dan pendidikan musik pengamen jalanan yang berbakat. Inti dari kegiatan-kegiatan di rumah ini adalah pemberdayaan anak-anak yang homeless dan tidak berkemampuan dalam hal ekonomi. Mereka yang dididik dan ditempa di rumah ini, bukan tanpa hasil. Banyak musisi jalanan jebolan dari rumah ini yang akhirnya mampu mencari pendapatan sendiri tanpa harus berada di jalanan. Artinya visi alm.Harry Roesly membangun tempat ini tidak sia-sia dan membawa pengaruh besar bagi lingkungan di sekitarnya.

Kembali pada permasalahan bahwa rumah ini harus dijual, kami sendiri agak sedih mendengarnya dan sedikit menimbulkan dugaan-dugaan bahwa apabila rumah ini harus dijual dan tidak di relokasi, maka kegiatan-kegiatan di tempat ini akan mati. Namun kepada kami, Lahami menjamin hal itu tak akan terjadi. “Yang pasti RMHR akan selalu ada. RMHR itu ada bukan karena tempat, tapi karena spiritnya. Selama spirit itu dipertahankan, maka RMHR akan selalu ada dimanapun tempatnya, tegas pria yang biasa disapa Hami ini. Setidaknya pernyataan ini memberikan jawaban atas kesimpangsiuran berita terhadap padamnya kegiatan-kegiatan yang ada pada RMHR. Kami sendiri tetap mendukung agar tempat seperti ini tetap ada, walaupun dengan bangunan yang berbeda, nama berbeda, asalkan visi misinya tetap sama. Seperti pesan alm. Harry Roesli sebelum menghadap sang Khalik, ”Jangan matikan lampu di meja kerja saya…..!” yang bermakna lampu kreativitas RMHR harus tetap menyala.

*dikutip dari berbagai sumber.

photos by. Indra N

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes