Oleh: Mahardhika Utama
“Sy akan Jogging/Jln dari BANDUNG ke JAKARTA klo ada Sponsor yg mau ngedanain 80% biaya tim Indonesia untuk ikut Homeless World Cup 2011″ @ginankoesmayadi
Ginan Koesmayadi lewat akun Twitternya bertaruh akan pergi dari Bandung ke Jakarta dengan berjalan kaki. Hal itu akan ia lakukan bila ada pihak yang bersedia membantu (secara finansial) tim Rumah Cemara bisa ikut Homeless World Cup yang akan diadakan di Paris Perancis bulan Agustus mendatang. Tentunya tiada asap bila tak ada api, pertaruhan yang cukup berani dari Ginan, project leader dari Rumah Cemara tentu saja ada sebabnya. Hal itu ia lakukan demi bisa memberangkatkan tim nasional sepakbola Indonesia yang diwakili Rumah Cemara untuk berlaga di piala dunia khusus kaum termarjinalkan bernama Homeless World Cup tersebut. Ya, masalah finansial menjadi kendala utama bagi mereka mengibarkan Merah Putih di tanah Paris.
Sebenarnya undangan untuk mengikuti turnamen sepakbola Homeless World Cup ini sudah ada sejak tahun lalu. Kalau saja tidak terkendala masalah yang sama, mungkin tahun lalu tim sepakbola Rumah Cemara sudah berlaga di Rio de Janeiro Brazil tempat dimana tahun lalu turnamen ini digelar. Dan tahun ini, undangan sekaligus kendala yang sama terulang kembali.
Angin apa yang membuat Rumah Cemara bisa diundang ke ajang internasional tersebut? Rumah Cemara adalah organisasi berbasis komunitas bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA, red) dan Pengguna Napza di Jawa Barat yang mempunyai sebuah program bernama Changing Life Through Football. Sebuah program yang menggunakan media sepakbola ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya menunjukan bahwa orang dengan HIV/AIDS mampu memiliki kualitas hidup selayaknya orang-orang biasa. Program ini juga bertujuan mengurangi stigma dan diskriminasi yang selama ini kaum ODHA banyak dapatkan dari masyarakat. Dan tahukah kamu, program ini mendapat respon yang begitu baik dari kancah internasional, hal itu pulalah yang menjadi landasan Homeless World Cup yang digagas Mel Young untuk mengundang Rumah Cemara hingga dua kali. Tapi sayang apresiasi positif dari publik internasional ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negeri sendiri.
“Kami mencoba menggagas acara ini untuk mendapat donatur demi mewujudkan mimpi tampil di Homeless World Cup. Perhatian dari pemerintah terhadap kegiatan ini sangat kurang hingga memaksa kami untuk mencari alternatif lain“, kata Adhtyo Lendra humas Rumah Cemara yang dikutip dari media olahraga Goal.Com. Saya masih ingat betul saat tahun lalu berbincang bersama Ginan tentang Homeless World Cup dan kendala finansial yang dihadapinya tahun lalu hingga akhirnya mereka batal berangkat kesana. Ginan menyebutkan bahwa atensi dari masyarakat dan pemerintah sangatlah rendah. “Bayangkan anda mau mengharumkan nama bangsa, namun pada kenyataannya minim sekali atensi (pemerintah) dan jelas itu diskriminasi yang menurut saya sistemik”, ujar Ginan yang saya tulis di Formagz tahun lalu (simak artikel Bersama Ginan Melawan Stigma).
Miris sekali rasanya melihat rendahnya perhatian pemerintah terhadap orang-orang dengan HIV/Aids, terlebih mereka sedang berusaha untuk mereduksi stigma dan diskriminasi dengan membawa misi mulia mengharumkan nama bangsa di negeri orang. Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Bapak Ibu anggota DPR yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat. Studi banding omong kosong keluar negeri dengan anggaran biaya tidak masuk akal, jawaban-jawaban menggelikan saat mereka berdialog dengan mahasiswa Indonesia di Australia, hasrat menggebu untuk membangun gedung DPR bak hotel bintang 5, skandal anggota DPR yang mangkir, tidur bahkan menonton video porno saat rapat di parlemen, dan hal-hal “membanggakan” lainnya yang sering kita saksikan di televisi.
Angkat topi saat melihat kenyataan anak-anak Rumah Cemara ini tidak patah arang dengan situasi yang ada. Mereka melakukan aksi damai turun ke jalan sambil menjual aksesoris berupa Rubber Band “FOR LIFE”, selain itu mereka pun membuka link donasi di website Global Giving (http://www.globalgiving.org/projects/indonesia-hwc/). Total raihan funding yang sudah terkumpul di website tersebut baru mencapai angka $130 dari $25,000 dana yang dibutuhkan. Namun, dengan angka yang masih sangat jauh itu bukan tidak mungkin mimpi mereka (dan kita semua yang menolak stigma dan diskriminasi) untuk berlaga di Homeless World Cup Paris 21-28 Agustus mendatang akan terlaksana. “There is no other miracle than respecting our existence as human beings”.








Selamat kepada rumah cemara yang akhirnya berhasil berangkat ke paris,saya turut bangga kita juga punya sido muncul dan kick andy yang selalu peduli dengan sesama. tapi kok ada yang lucu ketika rumah cemara berhasil berangkat baru pemerintah lewat Menpora dengan PDnya melepas dengan senyum.
Syukur Alhamdulillah ya Mas. Mungkin untuk mengetuk hati bapak2 di pemerintahan ini memang harus “dipanasi” dulu oleh pihak swasta hehe. Terlepas dari itu semua, sekarang mereka sudah berhasil berangkat. Dan hingga saya menulis komentar ini, Tim Indonesia yang diwakili Rumah Cemara BELUM TERKALAHKAN!!
SEGAN