Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Ibing Suribing (dalam kenangan, Alm. Kang Ibing)

20 Aug Posted by in Berita Utama, For Headline | Comments
Ibing Suribing (dalam kenangan, Alm. Kang Ibing)
 

Oleh: Kurt Solihin

Kang Ibing

Tertawa begitulah dia menutupi kesenangannya, Menangis itulah saat baik dan indah bagi kami saat tidak pernah melihatnya menangis. Ibing, Kakek ku menurunkannya pada ayahku dan berkata Ieu bodor, sok dangukeun”, dan ayah merekamnya lewat pita kaset-kaset bekas. Ya, itu aku dengan baju merah putih saat merasa menjadi generasi yang katanya bakal meneruskan budayanya, aku mendengar Ibing di radio. Sedikit-sedkit pecah tawa, ada khas Ibing punya yang kemudian mengakar pada aku punya selera, oh dia mengakar menghujam seperti mutu bertemu coet yang bisa membuat sambal seutuhnya.

Oh Ibing walau dengan guraunya diri terpacu, tak terbayang saat ibing mengamuk mungkin terpacu-pacu-pacu.Ibing, sekilas namanya tampak berasal dari Paman Sam, karena ada -ing di belakang ib. Tapi tak pedulilah aku, yang saya tau dia dari Sumedang, kota yang punya larangan, jadi orang sering bilang Sumedang Larang. Bukan karena banyak larangan, larang mandi larang pake motor, dll itu hanya budaya dan mitos tentang kebudayaan Siliwangi saja, tapi untuk apa mereka melarang-larang? Mungkin karena Ibing hidupnya serba dilarang karena berada dikawasan Sumedang Larang, dia punya hasrat coba semua jenis rasa dari jiwa, rasa iba, canda, humor, cinta, marah tapi bodor, romantis tapi bodor, emosi tapi ocon. Tampaknya sudah tidak valid istilah katakan cinta dengan bunga atau istilah yang berawal dari ucapan dan tingkah laku apapun, dan semua lebih baik saat katakan dan lakukan dengan guyon dan canda. Aku senang Ibing punya tenaga menulis untuk dia keluarkan dan di cetak di PR (Pikiran Rakyat, red), atau saat dia melakukan canda-canda (kalo kata orang jakarta, Apa sih GJ), ya orang diluar Priangan ga bisa bahasa Sunda jadi jelas saja mereka bilang GJ. Oh kawan, tapi itu tidak terjadi padaku, aku bisa setia saat membaca ulasan politik Ibing, daripada membaca buku politik yang ditulis SBY. Aku bisa baca ulasan PERSIB karya Ibing berulang, hanya biar punya modal untuk berbagi guyon disekolah kelak sesudahnya aku membaca. Jadi ingat masa-masa membawa radio kedepan teras hanya untuk mendengar Ibing punya guyon dan nikmat dengar bersama Kang Ade Bibih, Tatang, Idon dan kawanan lainnya. Entah karena waktu itu saya masih kecil jadi mau saja disuruh bawa radio combo keluar pagar teras oleh mereka yang sekarang telah menjadi om-om. Kalau memang begitu saya berterimakasih kepada mereka karena telah memperkenalkan Ibing lebih jauh, setelah kakek dan ayah saya. Senang, sekarang ada dokumentasi arsip-arsip, kertas, bacaan, buku, koran, dan senang saat ada teknologi yang bisa cover dan mengabadikan bodoran Ibing.

Tapi tidak senang saat kemarin saya yang berada di pinggir Jakarta, karena memang di Jakarta selepas kerja di Kedoya Jakarta Barat dekat Kebon Jeruk, kalau dari Bandung tinggal satu kali naik Bis Arimbi jurusan Merak trus pake angkot 14 dan sampai di Media Indonesia disitulah tempat aku kerja, yang biasa malam itu habis dengan puluhan gelas kopi yang saat itu saya baru pulang dari Taman Surapati, yang hari itu saya kehabisan kupon makan di kafe, yang saat itu rokok 2 batang sisa aku selipkan di sela belakang saku, ohhhhh itu hari yang buruk kawan. Yaaaaa, itu hari Kamis, dan saya teruskan saya tidak senang hari itu saat menuju Doel The Coffee Shop itu saya ulangi sekali lagi hari Kamis pukul 21.30, kerabatku yang tidak tau berpikiran apa waktu itu, tiba-tiba mengambil telepon genggam yang saya yakin itu milik kerabatku, karena saat dia mengirimkan pesan nama kerabatku itu yang muncul, saya berpikir ini pasti kerabatku. Dan isi dari hp ku yang bunyi adalah Pit kang ibing maot”. Itu hari mendadak sepi, langsung mendadak angin bertiup kencang, daun berjatuhan, dan semua menjadi mute, wow Kang Ibing?? Isi sms bikin aku percaya karena buat apa kerabatku bilang Ibing maot, Ibing bukan siapa-siapa logikanya. Ner teu? Ku balas sms kerabatku itu dengan isi sebagaimana seorang Muslim mendengar Muslim lainnya meninggal. Aku setengah berteriak kepada kawan atau hanya orang-orang yang ada di sekitar dan bertujuan suara ku bisa meraih perhatian mereka, Hey, kang Ibing maot euy”. Dan mereka berseru, “Kang Ibing? oh kenapa?”. Hanya itu yang mereka lontarkan, tak seperti harapanku. Dan, aku teringat aku berada di Jakarta, aku bisa membahas romantisme Ibing semasa jaya hingga dia menjadi legenda, oia aku berada di jakarta, mereka tahu tapi mereka tidak mengenal Ibing, mereka tau Ibing adalah Si Kabayan, tapi mereka tidak tau Ibing. Saat itu aku ingin pulang ke Bandung hanya untuk mencari lebih dalam Ibing meninggal, dan bertukar cerita hanya untuk Ibing. Namun tak bisa, ohh kawan aku, sekali ini aku dibuat merasa sedih yang benar sedih oleh seorang pelawak, dan tak ada tempat untuk bercerita panjang di Jakarta, sampai akhirnya aku tak bisa pulang dari urban yang mereka sebut ibu kota, dan hanya bisa berkontak via sms-an atawa nelepon untuk kabar Kang Ibing, sampai akhirnya Ibing pun di masukan liang lahat di Puyuh, Sumedang,dan aku di Jakarta, dan sampai entah kapan pasti Ibing dikenang.

Walau pun dia “Rakus (Ustad, pelawak, MC, Musisi, artis, bintang pelem, tukang dongeng, dsb) niscaya membawa berkah,dan masyuk syurga Kang Ibing, amin.

Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata (Kang Ibing) 1946-2010

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes