Oleh: Rizki Rahadiyan
“harapan kami di album ini adalah mendunia sampai kiamat”
-The Panic-
(11/12) Meskipun malam itu kota Bandung di guyur hujan yang cukup deras, namun hal itu rasanya tidak menyurutkan niat para penikmat musik untuk datang ke gelaran album rilis pertama The Panic yang bertempat di Braga Café and Craft. Tempat yang sebenarnya terlihat tidak terlalu luas namun sederhana ini mampu menampung cukup banyak teman-teman media dan para undangan yang hadir. Di tempat yang sederhana dan minimalis ini muncul kedekatan di antara The Panic sebagai si empunya acara dengan teman-teman yang hadir di Braga café and craft.
Malam itu pun terasa unik karena The Panic membawakan sebagian lagu-lagu dalam album pertamanya yang mereka beri ngaran All Human Talk seperti Android Age, All Human Talk, Pen, Child On The War, dan lainnya dalam tiga format, yaitu akustik, full band, dan terakhir dengan konsep etnik di mana mereka menggabungkan alat musik modern dengan alat-alat musik tradisional seperti kecapi dan suling. Unik karena sangat jarang musisi saat ini yang menggunakan alat musik tradisional dalam penampilan mereka.
Kendati dalam penggarapannya sempat tertunda selama 2 tahun dikarenakan berbagai macam kendala, namun hal tersebut tidak membuat Akis (vokal dan gitar), Eko (gitar), Domi (bass), dan Agi (drum) berhenti untuk terus berkarya. Akhirnya pada tanggal 11 Desember di tahun ini album tersebut resmi di rilis.
Selain dari performance mereka yang unik dengan menggunakan beberapa alat musik tradisional, lirik-lirik dalam karya mereka pun sangat menarik. Sesuai dengan judul album mereka All Human Talk, dalam press realease-nya mereka mencoba mengajak manusia agar kembali menyadari esensi kemanusiaan-nya yaitu sebagai makhluk yang berakal dan bernurani untuk melakukan suatu perubahan baik positif maupun negatif. Berangkat dari rasa sadar akan esensi kemanusiaan tadi, manusia akan kembali melakukan hal yang semestinya dilakukan selayaknya seorang manusia yaitu berfikir, menentukan, bicara lalu bertindak. Dalam karya-karya-nya juga The Panic mencoba menjadikan karya mereka sebagai mesin penggerak setiap hari bagi manusia menuju perubahan yang positif.
Walaupun menggunakan konsep yang cukup sederhana, namun penampilan The Panic di malam itu mampu membuat para pengunjung yang hadir terpukau, terlebih bagaimana mereka dapat menampilkan musik mereka sekaligus membumbuinya dengan visual art yang cukup menarik untuk disimak. Dalam waktu dekat ini All Human Talk akan segera dilempar ke pasaran, dan rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk kesuksesan album pertama The Panic ini.
Photos by. M. Rasyid










