Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

Social Protection for Difable, “They” are Same with Us

22 Dec Posted by in For Event | Comments
Social Protection for Difable, “They” are Same with Us
 

Oleh: Indra Nugraha

Berlangsung selama dua hari terhitung sejak tanggal 20 Desember kemarin, Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip Unpad menyelenggarakan sebuah seminar yang telah menjadi event tahunan mereka di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran. Dilatarbelakangi oleh pandangan miring masyarakat secara umum pada kaum difable serta dengan adanya momentum Hari Penyandang Cacat Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember awal bulan ini, mahasiswa angkatan 2008 Ilmu Kesejahteraan Sosial  yang merupakan penggagas acara tersebut mengangkat isu “Social Protection for Difable” (Menembus Batas dengan Keterbatasan) untuk dijadikan tema utama seminar nasional tersebut.

Difable (Different Ability People) atau kita kenal juga dengan istilah Disabilitas merupakan setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu baginya untuk melakukan hal-hal selayaknya orang biasa. Pandangan masyarakat selama ini, kaum difable cenderung dikategorikan sebagai orang yang harus dikasihani bahkan hingga dijauhi. Namun, hal tersebut ditepis jauh-jauh dalam gelaran seminar tersebut.

Dibuka oleh Rektor Unpad,acara tersebut setidaknya cukup menyedot perhatian lebih dari 300 orang dari berbagai kalangan baik itu mahasiswa dari seluruh Indonesia, dosen, masyarakat umum, hingga kaum difable itu sendiri yang juga memiliki hak sama untuk menghadiri dan mengikuti seminar tersebut. Hadir sebagai keynote speaker perwakilan dinas sosial Provinsi Jawa Barat dan kota Bandung. Mereka menyampaikan bagaimana kondisi kaum difable tersebut di negeri ini pada umumnya. Seminar yang terdiri dari empat sesi dan berlangsung selama dua hari tersebut, menampilkan beberapa pembicara dan narasumber yang cukup kompeten di bidangnya.

Di sesi pertama tampil sebagai nara sumber Nani Rosada sebagai ketua RBM (Rehabilitasi Bersumberdaya/Berbasis Mayarakat), Dwi Arini dari organisasi Handicap International, dan Basyir mewakili YPAC. Dengan pembicara Caesarika F. Gumay dan Reza Fauzan, mereka memaparkan bagaimana peran masyarakat umum bagi kaum difable, terungkap juga bagaimana peran institusi dan komunitas yang ideal dalam pemberian bantuan bagi kaum difable.

Selain menampilkan seminar, dalam event ini disajikan pula gelaran musik yang dibawakan secara acoustic oleh para difable. Dan sungguh sangat diluar dugaan apa yang mereka tampilkan rasanya jauh lebih baik bila dibandingkan dengan para penyanyi lipsync yang sering mengisi berbagai macam acara pagi di televisi swasta.

Sesi selanjutnya ditampilkan narasumber Drs. Basyariah sebagai Kepala SLB D YPAC kota Bandung dan Markus dari Yayasan Precious One. Sebagai pembicara Ine Destriana dan Ade Nur Anisya membahas berbagai macam akses yang sebenarnya sangat terbuka bagi difable untuk mendapatkan hak yang sama akan pendidikan dan pekerjaan. Hal yang cukup menarik dalam sesi ini adalah hadirnya sebuah VT yang ditampilkan oleh Bpk. Markus tentang bagaimana para kaum difable telah banyak menyentuh sektor-sektor pekerjaan yang “nampaknya” hanya bisa dilakukan oleh orang-orang biasa saja. Dari pemutaran video tersebut tampak telah banyak perusahaan yang mampu menyerap tenaga kerjanya dari para difable dan lebih lanjut lagi banyak pula difable yang telah mampu mempertunjukan kelebihannya dibandingkan orang biasa pada umumnya.

Di hari kedua, sesi seminar ini dilanjutkan dengan pembahasan mengenai penyaluran bakat dan aktualisasi diri bagi masyarakat difable, hadir dalam sesi ini narasumber yang concern terhadap permasalahan sosial Ibu Binahayati ditemani Soegeng seorang pria yang telah membuat Seribu Kaki Palsu bagi masyarakat difable. Dalam sesi ini Jeffri Yosep dan Anis Wardhatul Jannah membicarakan mengenai pentingnya sebuah aktualisasi diri, dengan aktualisasi diri yang baik maka sukses nampaknya hanya tinggal menunggu waktu.

Sesi terakhir dari gelaran seminar tersebut menghadirkan narasumber dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Orang dengan Kecacatan (Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial) Eva Rahmi Kasim, Mds. Ditemani oleh dua orang pembicara Hasby Radhitya dan Rizaldi Javier, mereka membahas mengenai bagaimana seharusnya kondisi ideal dari perlindungan sosial bagi para penyandang cacat di Indonesia.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam event seminar pekerjaan sosial kali ini muncul sebuah metode baru yang bernama Open Space. Open Space ini adalah suatu metode pemecahan masalah  dimana audience dapat memilih sub-tema yang mereka anggap paling menarik, sehingga timbul suasana santai dalam pemecahan masalah seperti yang diungkap oleh Maulana Irfan dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial “Metode ini layaknya seperti coffe break jadi yang diutamakan ya kesantaiannya itu, kita bisa memilih apapun yang disajikan bahkan kita-pun bisa tidak memilih” ujarnya. Dari metode tersebut diharapkan dapat terumus sebuah kondisi ideal bagaimana perlindungan sosial dapat dilaksanakan di negeri ini. Dan nantinya, hal tersebut akan direkomendasikan kepada pemerintah yang mengatur tentang hal ini.

Seminar tersebut setidaknya telah membuka mata kita bagaimana kaum difable yang sesungguhnya ada di negeri ini, mereka memiliki hak dan sebenarnya banyak memiliki kelebihan dibandingkan kita sebagaimana yang diungkapkan oleh Richie Amabella sebagai ketua pelaksana “mereka (difable, red) sesungguhnya memiliki potensi yang sangat tinggi, bahkan kita bisa kerja bareng sama mereka” ujarnya. Setidaknya mungkin itulah tujuan diadakannya seminar ini, pandangan masyarakat akan semakin terbuka bahwa masih banyak hal yang dapat dilakukan kaum ini dan tidak pantas rasanya memicingkan mata kita lagi terhadap mereka.

Photos by. Yani Y

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes