Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

NO LAST CALL: Catatan Akhir Supratman 57

21 Nov Posted by in For Event | 1 comment
NO LAST CALL: Catatan Akhir Supratman 57
 

Oleh: Mahardhika Utama

No Last Call, sebuah konser perpisahan untuk Supratman 57. Rumah Musik Harry Roesli (selanjutnya disingkat RMHR). Entah harus bersuka cita atau malah berduka berada disana Sabtu (19/11) sore itu. Satu sisi bahagia seolah bernostalgia dengan suasana hingar bingar diselingi canda tawa khas anak-anak Supratman 57 sambil menyaksikan penampilan-penampilan ciamik para seniman penerus almarhum Harry Roesli di panggung sederhana tepat didepan kelas drum, tempat dimana saya dulu sering menghabiskan waktu. Sisi lainnya tentu bersedih karena mungkin tak akan ada lagi suasana tersebut ditempat yang sama kemudian hari.

Di artikel sebelumnya sudah dijelaskan ihwal dari tutupnya RMHR di Supratman 57, namun tepat di hari itu angin segar berhembus kembali di RMHR, pasalnya lokasi kepindahan RMHR sudah dipastikan sedikit bergeser ke Supratman 59 yang tiada lain adalah bekas tempat tinggal almarhum Harry Roesli beserta keluarga. “Berhubung keluarga juga udah pada tinggal di ibukota, yaudahlah kita pindahin aja kesini. Ya walaupun berat karena banyak nilai historis di Supratman 57 tapi mungkin memang harus begini. Yang pasti kepindahan ini juga untuk sesuatu yang lebih besar, nantinya akan dibangun juga studio rental,” ungkap Layala Roesli salah satu putra almarhum Harry Roesli yang juga mengelola RMHR.

Nilai historis Supratman 57 coba dihidupkan oleh geng RMHR dalam No Last Concert. Wall of fame besar disediakan bagi pengunjung guna menuliskan kesan serta memorabilia di Supratman 57. Beragam pengalaman orang-orang yang pernah dan masih berkecimpung di lingkung seni RMHR terpampang di wall of fame ini, cukup mengharukan. Bagi saya sendiri RMHR meninggalkan kesan yang cukup mendalam, di tempat inilah saya merebut gelar sarjana karena tema skripsi saya mengenai program pembinaan seni anak-anak jalanan oleh Harry Roesli Foundation. Di Supratman 57 juga saya memperdalam teknik bermain drum dan berdiskusi ngalor-ngidul di ruangan tengah yang terbuka sambil menjalin persahabatan dengan para penghuni RMHR lainnya. Berkesan sekali. Sementara bagi Yala sendiri pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ia mengadakan event Metalkustik yang konon menjadi event musik metal acoustic pertama di kota Bandung. “Bayangin aja lebih dari 1000 orang tumpah ruah ditempat yang cuma segede gini,” kenang Yala dengan sedikit berkaca-kaca.

Namun segala nilai historis Supratman 57 biarlah menjadi catatan manis perjalanan RMHR. Meski meninggalkan banyak kenangan sejak tahun 70′an hingga menjelang akhir tahun 2011, setidaknya optimisme baru sudah terlihat, artinya lampu kreativitas RMHR tidak padam sehubungan dengan pesta perpisahan Supratman 57 yang dirangkum dalam NO LAST CALL CONCERT. Per 1 Desember mendatang, RMHR sudah bisa kembali beraktivitas di rumah barunya di Supratman 59. Hanya selemparan batu dari tempat sebelumnya, dan aktivitas berkesenian geng RMHR dipastikan tak akan pernah mati.

No Last Call Concert

Kendati para penampil di No Last Call Concert adalah generasi-generasi penerus Harry Roesli yang merupakan jebolan RMHR, atmosfer Harry Roesli tak sekental Konser Titik Api yang digelar di Sabuga Bandung tahun lalu. Namun Yala mengaku bahwasanya konser ini lebih kepada penghormatan terakhir untuk Supratman 57, bukan secara khusus untuk mengenang almarhum Harry Roesli.

Lebih dari 20 penampil jebolan RMHR unjuk kebolehan di “farewell party” Supratman 57, diantaranya Authority, Jolly Jumper, Cardio, Malika, Wind Cries Mary, Jazz A Kid, dll. Nama terakhir cukup mencuri atensi penonton, bagaimana tidak, Jazz A Kid yang terdiri dari anak SD dan SMP itu sudah mahir memainkan musik jazz. Nomor jazz instrumental karangan sendiri dan Just The Way You Are milik Bruno Mars yang diaransemen ulang membuat semua yang hadir disitu berdecak kagum. Mereka adalah talenta-talenta racikan Supratman 57 yang bakatnya akan terus diasah di tempat baru RMHR nantinya.

Sekali lagi meski tempatnya berpindah, namun spiritnya tidak berubah. Selamat tinggal Supratman 57 dan selamat datangruang kreasi baru Supratman 59. Sudah pasti, “Lampu Kerja” akan tetap menyala.

Photos by. M. Rasyid

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes