Close

Not a member yet? Register now and get started.

lock and key

Sign in to your account.

Account Login

Forgot your password?

“Bandung Deathfest 5″ Membawa Pesan Bhineka Tunggal Ika

30 Nov Posted by in For Event | Comments
“Bandung Deathfest 5″ Membawa Pesan Bhineka Tunggal Ika
 

Oleh: Rama Gustamar

Minggu (27/11) menjadi hari yang dipilih komunitas Bandung Deathmetal Sindikat untuk membuat hajatan megah bertitel Bandung Deathfest yang kali ini menginjak kali ke 5-nya digelar di kota Bandung. Stadion Angkasa Lanud Sulaiman di selatan Kota Bandung menjadi saksi dari ajang silaturahmi sekaligus unjuk gigi para metalhead yang sebelumnya sempat dipusingkan oleh ketidakpastian venue untuk menggelar acara ini.

Tidak mudah untuk sampai ke venue apalagi bagi anda yang tinggal di pusat Kota Bandung, pasalnya untuk bisa menjadi bagian dari sejarah Bandung Deathfest 5, pengunjung terlebih dahulu harus melewati kemacetan Bandung akhir pekan. But no pain no gain, lur. Hal-hal menyebalkan selama di perjalanan terbayar lunas saat tiba di venue Bandung Death Fest 5. Tempat yang luas dengan deretan headliner berbahaya secara leluasa memberikan ruang orgasme para penikmat musik death metal.

Namun, bukan Bandung Deathfest namanya bila tidak mengusung tema yang unik dan selalu menyusupkan pesan positif. Tulisan besar “Lagu kita masih sama Indonesia Raya” menyambut kedatangan kami setelah masuk ke lapangan Stadion Angkasa. Tema yang diusung Deathfest 5 kali ini kurang lebih seperti semboyan Bhineka Tunggal Ika yang maknanya adalah siapapun orangnya, darimana asalnya, apapun genre musiknya, kita masih tetap Indonesia, lagu kita masih sama Indonesia Raya. Sebuah tema yang memberi pesan positif untuk membangkitkan rasa nasionalisme para metalhead di tanah air. Lagipula metal tidak kenal warna kulit dan logat bicara, bukan? Mau kamu deathmetal, metal, grindcore, punkrock, pop, apapun itu, kita semua sama. Sudah saatnya kita tidak membeda-bedakan musik, budaya dan  suku, tandas Man Jasad disela-sela acara.

Jam menunjukan pukul 2 siang disaat matahari sedang terik-teriknya, Invader yang mengaku bergenre Extreme Harmonic Death Metal sedang menebar kebisingan di segala penjuru venue. Namun sayang moshpit masih lengang dan kebanyakan penonton lebih memilih berteduh dibawah tenda-tenda yang disediakan panitia. Berikutnya Despair, yang juga berasal dari Bandung, tanpa basa-basi mulai menghajar telinga penonton dengan pukulan drum yang sangat rapat, growl tebal dan distorsi gitar khas ala death metal. Saat itu penonton mulai tak mempedulikan panas terik matahari dan headbang berjamaah pun menjadi pemandangan yang cukup menarik.  Despair menutup penampilan mereka dengan membawakan Nocturnal Crucifixion milik band metal asal Amerika, Dying Fetus.

Band asal Cimahi bernama Girlzerot cukup menarik perhatian. Seperti terlihat dari namanya, band ini  terdiri dari dua pria dan juga dua wanita.  Bisa dibilang formasi ini jarang ditemukan pada band death metal di Indonesia terlebih dua wanita itu memegang posisi yang sentral yaitu vokalis dan lead guitar. Penampilan mereka menepis stereotipe bahwa musik death metal hanya untuk kaum pria.

Hingga menjelang Maghrib terhitung 11 band yang mengisi line up Bandung Death Fest kali ini, selain ketiga band diatas ada Hibrani, Blood Sucker, Devormity, Safar, Gore Infamous, Humiliation, Embalmed, dan Engorging. Band-band ini menyuguhkan ragam sub genre death metal yang memberikan kepuasan tersendiri bagi para pencintanya. Dari Brutal, Technical, Harmonic, Slamming, Guttural, dsb yang memberi warna pada gelaran Deathfest kali ini.

Bukan hanya dari Bandung atau daerah Jawa Barat saja band yang unjuk gigi di Bandung Death Fest 5, Prosatanica dari Jakarta dan Bersimbah Darah dari Bali menjadi wakil dari daerah luar Jawa Barat untuk ikut meramaikan hajatan akbar para metalhead ini.

Hal unik lainnya dari acara musik death metal ini yaitu tampilnya berbagai macam bentuk kesenian lainnya seperti bebunyian dari bambu dan kesenian debus dari Gass & Sinar Putra Banten yang turut meramaikan panggung Bandung Death Fest 5. Debus yang menampilkan aksi seperti menusuk dan menggorok bagian tubuh dengan benda tajam,  menghantam bagian tubuh dengan benda keras, mandi dengan air keras menjadi pemandangan yang membuat ngilu sebagian besar penonton. “ Meskipun jiwa deathmetal, kalo ngeliat yang kaya gini sih tetep aja ngilu” ungkap salah satu penonton acara ini. Adalah sebuah hiburan rakyat yang kami rasa wajib diperlihatkan pada generasi muda yang saat ini kurang mengenal dan memperhatikan ragam kebudayaan lokalnya.

Kembali ke panggung Bandung Death Metal 5. Dajjal, Prosatanica, Bleeding Corpse, dan Bersimbah Darah menunjukan bahwa mereka memang tidak diragukan lagi skill dan kualitas band secara keseluruhan. Jam terbang serta kontribusi yang besar dalam dunia deathmetal dalam dan luar negeri membuat mereka pantas menjadi line up akhir yang sukses membayar lunas harga tiket masuk penonton yang cukup mahal ini. Meski hujan lebat sempat mengguyur Stadion Angkasa dan sekitarnya, namun hal itu tidak menjadi halangan bagi para metalhead untuk saling membenturkan badan, menganggukan kepala dengan kompak dihadapan band-band yang tampil pada hari itu.

Namun, hingar bingar dan suksesnya gelaran Bandung Death Fest 5 hari Minggu lalu harus menyisakan kesedihan bagi publik metal tanah air, publik patut berduka dan kehilangan atas meninggalnya Dwinanda Satrio alias Rio, pemilik dari Rottrevore Records yang menaungi banyak band metal tanah air seperti Jasad, Forgotten, Dead Squad, Disinfected, dll. Rio meninggal Senin (28/11) di Wisma Lanud Husein sehari setelah ia membantu pagelaran Bandung Death Fest. Menurut keterangan Eben Burgerkill kepada Rolling Stone, kemungkinan Rio meninggal akibat serangan jantung. Selamat jalan Rio jasa-jasamu terhadap skena metal Indonesia akan selalu dikenang.

Mari kita sama-sama tunggu aksi sangar musisi dan tema cerdas lainnya pada Bandung Death Fest 6 di tahun depan. Keep Brutal and Fight Racism! \m/

Photos by. Iqbal Deo. R

Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes