Buka Bareng Alone At Last*

Oleh: Mahardhika Utama

IMG00035-20100828-1950Sabtu (28/8) salah satu ikon band emo asal Bandung, Alone At Last* menggelar acara buka bareng di Beat n Bite Cafe yang terletak di bilangan jalan Ambon Kota Bandung. Sejak sore hari cafe milik Rico Mocca ini sudah dipenuhi oleh Stand Alone Crew (sebutan untuk fans AAL*), disana pun terlihat beberapa musisi lokal Bandung seperti Aska-Ucay dari Rocket Rockers dan Icad dari band metal Beside.

Keramaian ini bukan hanya milik AAL seorang karena Yas dkk mengajak beberapa band lain untuk tampil acoustic meramaikan acara ini, diantaranya adalah Hoolahoop yang membuka acoustic performance selepas buka. Setelah sepatah dua patah jokes dari Athink dan Yas, Hoolahoop tampil membawakan lagu-lagunya yang catchy termasuk mengcover lagu milik legenda indie pop Bandung, Pure Saturday pada nomor “Kosong” serta berduet dengan Aska frontliner dari Rocket Rockers dalam lagu berjudul “Perjalanan Terindah”

Wow Danger Ranger juga turut meramaikan buka bareng AAL. Band yang sedang banyak digandrungi ini mengajak penonton turut bernyanyi teurutama pada lagu berjudul “Party On” yang tiada lain adalah single duet mereka bersama Yas AAL, namun sayang entah mengapa Yas hanya ikut bernyanyi dari barisan penonton dan hanya sesekali maju teriak-teriak di bagian tertentu.

Read the rest of this entry »

Ibing Suribing (dalam kenangan, Alm. Kang Ibing)

Oleh: Kurt Solihin

Kang Ibing

Tertawa begitulah dia menutupi kesenangannya, Menangis itulah saat baik dan indah bagi kami saat tidak pernah melihatnya menangis. Ibing, Kakek ku menurunkannya pada ayahku dan berkata Ieu bodor, sok dangukeun”, dan ayah merekamnya lewat pita kaset-kaset bekas. Ya, itu aku dengan baju merah putih saat merasa menjadi generasi yang katanya bakal meneruskan budayanya, aku mendengar Ibing di radio. Sedikit-sedkit pecah tawa, ada khas Ibing punya yang kemudian mengakar pada aku punya selera, oh dia mengakar menghujam seperti mutu bertemu coet yang bisa membuat sambal seutuhnya.

Oh Ibing walau dengan guraunya diri terpacu, tak terbayang saat ibing mengamuk mungkin terpacu-pacu-pacu.Ibing, sekilas namanya tampak berasal dari Paman Sam, karena ada -ing di belakang ib. Tapi tak pedulilah aku, yang saya tau dia dari Sumedang, kota yang punya larangan, jadi orang sering bilang Sumedang Larang. Bukan karena banyak larangan, larang mandi larang pake motor, dll itu hanya budaya dan mitos tentang kebudayaan Siliwangi saja, tapi untuk apa mereka melarang-larang? Mungkin karena Ibing hidupnya serba dilarang karena berada dikawasan Sumedang Larang, dia punya hasrat coba semua jenis rasa dari jiwa, rasa iba, canda, humor, cinta, marah tapi bodor, romantis tapi bodor, emosi tapi ocon. Tampaknya sudah tidak valid istilah katakan cinta dengan bunga atau istilah yang berawal dari ucapan dan tingkah laku apapun, dan semua lebih baik saat katakan dan lakukan dengan guyon dan canda. Aku senang Ibing punya tenaga menulis untuk dia keluarkan dan di cetak di PR (Pikiran Rakyat, red), atau saat dia melakukan canda-canda (kalo kata orang jakarta, Apa sih GJ), ya orang diluar Priangan ga bisa bahasa Sunda jadi jelas saja mereka bilang GJ. Oh kawan, tapi itu tidak terjadi padaku, aku bisa setia saat membaca ulasan politik Ibing, daripada membaca buku politik yang ditulis SBY. Aku bisa baca ulasan PERSIB karya Ibing berulang, hanya biar punya modal untuk berbagi guyon disekolah kelak sesudahnya aku membaca. Jadi ingat masa-masa membawa radio kedepan teras hanya untuk mendengar Ibing punya guyon dan nikmat dengar bersama Kang Ade Bibih, Tatang, Idon dan kawanan lainnya. Entah karena waktu itu saya masih kecil jadi mau saja disuruh bawa radio combo keluar pagar teras oleh mereka yang sekarang telah menjadi om-om. Kalau memang begitu saya berterimakasih kepada mereka karena telah memperkenalkan Ibing lebih jauh, setelah kakek dan ayah saya. Senang, sekarang ada dokumentasi arsip-arsip, kertas, bacaan, buku, koran, dan senang saat ada teknologi yang bisa cover dan mengabadikan bodoran Ibing.

Tapi tidak senang saat kemarin saya yang berada di pinggir Jakarta, karena memang di Jakarta selepas kerja di Kedoya Jakarta Barat dekat Kebon Jeruk, kalau dari Bandung tinggal satu kali naik Bis Arimbi jurusan Merak trus pake angkot 14 dan sampai di Media Indonesia disitulah tempat aku kerja, yang biasa malam itu habis dengan puluhan gelas kopi yang saat itu saya baru pulang dari Taman Surapati, yang hari itu saya kehabisan kupon makan di kafe, yang saat itu rokok 2 batang sisa aku selipkan di sela belakang saku, ohhhhh itu hari yang buruk kawan. Yaaaaa, itu hari Kamis, dan saya teruskan saya tidak senang hari itu saat menuju Doel The Coffee Shop itu saya ulangi sekali lagi hari Kamis pukul 21.30, kerabatku yang tidak tau berpikiran apa waktu itu, tiba-tiba mengambil telepon genggam yang saya yakin itu milik kerabatku, karena saat dia mengirimkan pesan nama kerabatku itu yang muncul, saya berpikir ini pasti kerabatku. Dan isi dari hp ku yang bunyi adalah Pit kang ibing maot”. Itu hari mendadak sepi, langsung mendadak angin bertiup kencang, daun berjatuhan, dan semua menjadi mute, wow Kang Ibing?? Isi sms bikin aku percaya karena buat apa kerabatku bilang Ibing maot, Ibing bukan siapa-siapa logikanya. Ner teu? Ku balas sms kerabatku itu dengan isi sebagaimana seorang Muslim mendengar Muslim lainnya meninggal. Aku setengah berteriak kepada kawan atau hanya orang-orang yang ada di sekitar dan bertujuan suara ku bisa meraih perhatian mereka, Hey, kang Ibing maot euy”. Dan mereka berseru, “Kang Ibing? oh kenapa?”. Hanya itu yang mereka lontarkan, tak seperti harapanku. Dan, aku teringat aku berada di Jakarta, aku bisa membahas romantisme Ibing semasa jaya hingga dia menjadi legenda, oia aku berada di jakarta, mereka tahu tapi mereka tidak mengenal Ibing, mereka tau Ibing adalah Si Kabayan, tapi mereka tidak tau Ibing. Saat itu aku ingin pulang ke Bandung hanya untuk mencari lebih dalam Ibing meninggal, dan bertukar cerita hanya untuk Ibing. Namun tak bisa, ohh kawan aku, sekali ini aku dibuat merasa sedih yang benar sedih oleh seorang pelawak, dan tak ada tempat untuk bercerita panjang di Jakarta, sampai akhirnya aku tak bisa pulang dari urban yang mereka sebut ibu kota, dan hanya bisa berkontak via sms-an atawa nelepon untuk kabar Kang Ibing, sampai akhirnya Ibing pun di masukan liang lahat di Puyuh, Sumedang,dan aku di Jakarta, dan sampai entah kapan pasti Ibing dikenang.

Walau pun dia “Rakus (Ustad, pelawak, MC, Musisi, artis, bintang pelem, tukang dongeng, dsb) niscaya membawa berkah,dan masyuk syurga Kang Ibing, amin.

Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata (Kang Ibing) 1946-2010

Bersama Ginan Rumah Cemara Melawan Stigma

Oleh: Mahardhika Utama

Being HIV/Aids is not the end of the world…”

Setelah cukup lama Formagz mengincar anak muda ini, akhirnya kami ginanberhasil “menangkap” yang bersangkutan di markas besarnya. Haha bukan bukan, orang yang saya maksud bukan gembong teroris atau pria-pria berjubah yang rajin konvoi di jalanan (no offense, FPI). Anak muda yang dimaksud disini adalah Ginan Koesmayadi yang dikenal sebagai salah satu founder dari LSM Rumah Cemara dan juga vokalis dari band rock bernama Mood Altering. Inspiratif. Itu satu kata yang cukup menjadi alasan untuk kami kenapa harus mengejar seorang Ginan. Pria bertato yang bekerja sebagai pekerja sosial yang concern terhadap orang-orang dengan HIV/Aids ini menyambut Formagz dengan ramah di kantor Rumah Cemara yang terletak di bilangan Gegerkalong Bandung. Obrolan santai dengan pria penggemar Persib ini salah satunya membahas seputar stigma dan diskriminasi bagi orang-orang yang termarjinalkan. FYI: Ginan merupakan ex-user yang kini HIV+ namun dapat tetap hidup normal bahkan memberikan inspirasi positif untuk banyak orang didalam maupun diluar komunitasnya. Berikut obrolan santai Formagz bersama pria 30 tahun ini, check this one out: Read the rest of this entry »

Tidak Ada Tempat Senyaman Heaven Rawk Tour

Oleh: Roby Akbar

DSC_0396Tidak ada tempat senyaman rumah sendiri. Mungkin itu yang menjadi harapan dari acara Heaven Rawk Tour 2010 yang diadakan minggu  (8/8) yang bertempat di Cafe KongKow di bilangan Taman Pramuka Bandung. Rangkaian tour yang sebelumnya telah digelar di beberapa kota besar di Indonesia ini kali ini diisi oleh beberapa band dari berbagai kota dan juga band-band dari Heaven Record seperti Nudist Island, Goodboy Badminton dan Disconnected.

Bandung yang sebelumnya diguyur hujan cukup lebat sepertinya tidak menyurutkan orang untuk datang ke acara ini, terlebih layout cafe yang mirip aquarium akan menghangatkan siapapun yang masuk didalamnya. Selepas sore, secara berturut-turut band yang bervokaliskan wanita menghajar panggung Heavan Rawk Tour. Mereka adalah Caress, Virgin Oi! dan Billfold. Adalah Billfold band yang mengusung old school hardcore cukup menyita perhatian penonton terutama karena vokalisnya adalah seorang wanita cantik yang belakangan diketahui bernama Gania. Lagu-lagu dengan tempo yang super cepat dan padat jelas telah membakar adrenalin penonton ketika itu. Sayang penonton terlalu jaim untuk mengeluarkan adrenalin dan hanya puas menonton Billfold dari kejauhan. Tapi harus diakui band yang terhitung masih baru (walaupun diisi oleh muka-muka lama), sekali lagi berhasil mencuri perhatian penonton di Heaven Rawk Tour kali ini. Read the rest of this entry »

Pesta Mistis di Launching EP Sarasvati

DSC_0108 copyBumi Sangkuriang Kamis malam (22/7) menjadi saksi kembalinya Risa Saraswati yang dulu dikenal sebagai ikon dari kelompok musik elektronik Homogenic. Namun kembalinya Risa bukan sebagai Risa Homogenic melainkan sebagai penyanyi solo bernama SARASVATI yang meluncurkan mini album (EP) pertamanya yang diberi nama “Story Of Peter”. Yups, nama Sarasvati sendiri diambil dari nama belakang penyanyi yang juga dikenal sebagai penyiar di salah satu radio swasta Kota Bandung, hanya saja penulisannya menggunakan bahasa Sansakerta. Acara ini di organize oleh Port Music (setahun kebelakang masih tergabung di Swingingstars Management) yang didukung penuh oleh Speedytrek. Penonton tidak perlu merogoh koceknya karena dengan cukup registrasi online di website Speedytrek penonton bisa datang dengan gratis. Di launching party Sarasvati, tampaknya Risa enggan tampil sendiri melainkan ingin ditemani oleh Deu Galih and The Folks serta Tiga Pagi yang turut memeriahkan pesta Sarasvati.

Sekitar pukul 7 malam venue Bumi Sangkuriang sudah dipadati pengunjung DSC_0090 copyyang tentunya penasaran dengan kemunculan wanita yang gosipnya dapat merasakan hal-hal mistis ini. Pukul 8 malam acara benar-benar dibuka oleh penampilan memukau dari Deu Galih And Folks. Proyek solo Galih Su yang dibantu teman-temannya ini membuat musik folks terasa sangat kaya akan nada dan suara. Dengan balutan musik blues dan rock, setiap part dari lagu yang dibawakan Deu Galih And Folks ini menjadi kejutan-kejutan yang ditunggu penonton, baik permainan musik maupun tingkah laku sang vokalis yang beberapa kali menunjukkan kemampuan growlnya di bagian-bagian yang tidak terduga. Malam itu Deu Galih And Folks sempat membawakan cover dari puisi Chairil Anwar yang berjudul (kalo ga salah) Buat Gadis Rasyid. Mereka berhasil menyuguhkan pertunjukkan musik kelas tinggi dengan skill dan musik yang diusungnya, Standing applause for Deu Galih And Folks.

Selanjutnya giliran Tiga Pagi yang tampil. Walaupun posisinya sebagai penampil pendukung di gelaran milik Sarasvati, para penonton tampaknya cukup excited untuk melihat penampilan dari acoustic group yang beberapa waktu lalu pernah menjadi finalis salah satu ajang pencarian bakat yang katanya indie itu. Sulit berkata-kata ketika melihat anak-anak muda yang cinta akan kebudayaan lokalnya seperti Tiga Pagi ini, yups betul mereka mengusung musik acoustic folks Sunda. Tampil santai sambil sesekali menghisap rokok, petikan gitar yang terdengar seperti suara kecapi Sunda bersahutan dengan suara minimailis xylophone menghasilkan perpaduan musik harmonis yang sangat nikmat untuk dinikmati. Membawakan beberapa lagu termasuk lagu berjudul Tangan Hampa Kaki Telanjang, grup yang banyak terinspirasi oleh seniman-seniman Sunda seperti Mang Koko dan Uking Sukri ini membuat penonton ikut menyanyikan lagu tersebut. Musik dengan nuansa tradisional tidak terdengar kuno di tangan anak-anak Tiga Pagi, salut!

Dan ini dia sang pemilik pesta, dalang dari segala keramaian di Bumi Sangkuriang malam itu; Risa Saraswati yang “lahir kembali” sebagai Sarasvati. Dengan menggunakan dress hitam berbalut selendang berwarna biru Sarasvati yang didampingi rekan-rekan band pengiringnya menyapa penonton, “Senangnya kembali ke atas panggung setelah satu tahun absen” dan tanpa banyak basa-basi langung coba memperkenalkan materi di EP perdananya dengan nomor berjudul Cut and Paste.  Di lagu ini memang masih terasa warna Homogenic di era ia masih menjadu front lady dari band electropop itu. Nuansa gloomy dan kelam menunjukkan bahwa itulah karakter musik dari Sarasvati. “Senang sekali berada disini, di launching EP saya sendiri, ini cita-cita saya” kata Sarasvati sebelum lanjut ke lagu berikutnya yang berjudul Fighting Club. Masih dengan nuansa yang serupa tapi tak sama terdapat kejutan ketika di pertengahan lagu tiba-tiba terdengar suara dering telepon lalu suara khas berbicara dari balik telepon, suara yang familiar itu tiada lain adalah suara dari Arina Ephiphania yang dikenal sebagai vokalis dari Mocca. “Ini lagu favorit saya dari band bernama Space Astronauts kebetulan orangnya ada disini, Tengku Irfansyah” kata Sarasvati sambil menunjuk pria dibalik laptop programming ketika akan memulai lagu berikutnya yang berjudul Question. Satu nomor romantis dibawakan Sarasvati dengan berduet bersama pria berbadan besar bernama Muhammad Tulus.

Di lagu ke-5 yang berjudul Perjalanan (cover dari duo vokal legendaris Franky and Jane), Sarasvati meminta untuk menggelapkan ruangan. “Bisa digelapkan lampunya, saya ingin mengundang teman kecil saya” Kata Sarasvati sambil diiringi suara piano yang menimbulkan efek spooky. Tiba-tiba dari balik kerumunan penonton muncul sesosok badut anak kecil dengan mata menyala berwarna biru. Sulit menjelaskan kemistisan yang berhasil dibuat oleh tim Sarasvati. Sekali lagi Sarasvati ingin menunjukkan karakter musik sekaligus karakter pribadinya yang memang tidak jauh dari hal-hal mistis. Ya, mistis…Hal itu juga yang melatarbelakangi nama dibalik EP ini, Story Of Peter. Story Of Peter adalah sebuah dedikasi untuk sahabat lama Sarasvati yang sebenarnya cukup sulit untuk dimengerti oleh orang biasa. “Peter adalah teman kecil saya. Notabene, dia adalah makhluk tidak kasat mata yang tinggal di rumah saya pada saat itu. Saya menghabiskan banyak waktu bersamanya dan dia punya peran cukup besar untuk membentuk karakter saya menjadi sekarang ini. Album ini didekasikan untuknya” cerita Risa. Dan tiba-tiba…Sebuah makhluk putih berwajah anak kecil dengan mata menyala muncul dari belakang kerumunan penonton. Sontak saja hal itu membuat para penonton kaget tak karuan. Tapi ternyata itu hanya boneka. “Peter, jangan nakal” kata Sarasvati dari depan panggung. FYI: Menurut pengakuan Sarasvati dari account twitter pribadinya (risa_saraswati) saat mengatakan itu Peter Hendrick William Hans Yanshen yang asli ikut berjalan bersama boneka peter perform art semalam. Whhoooottt?

DSC_0099 copyDSC_0067 copyDSC_0027 copy

Jujur saja saya menulis review ini dalam keadaan bulu kuduk merinding, suasana malam itu berubah menjadi agak menyeramkan apalagi saat Sarasvati membawakan lagu berikutnya yang berjudul Bilur. Warna musiknya semakin horror seperti soundtrack di film-filmnya Tim Burton. Di pertengahan lagu tiba-tiba muncul sesosok nenek membawa lilin yang ikut menyinden/nembang Sunda. Tenang, nenek itu berwujud nyata dan memang manusia. Ia adalah Ambu Ida Widawati seorang seniman Sunda yang sudah cukup terkenal. Seolah ingin sedikit mengobati ketakutan penonton, Sarasvati membawakan cover lagu Melati Putih milik seniman Abah Iwan yang diiringi oleh Bohemian Ansamble. Dan konser ini pun ditutup dengan single dari EP ini, Story Of Peter yang diberi encore lagu Boneka Abdi yang entah kenapa lagu anak-anak itu terdengar menyeramkan. Konsep launching yang bagus dari penyanyi berkualitas. Diluar segala kemistisan yang terjadi malam itu, Sarasvati bisa menjadi pelecut untuk munculnya solois-solois lokal baru yang tidak kalah berkualitas seperti apa yang telah dilakukan Risa Saraswati pada EP nya, Story Of Peter. Selamat untuk EP nya dan…selamat anda berhasil membuat penonton ketakutan hehe. (Words by Mahardhika Utama, Photos by Rizki Rahadian)

Face it, Deal with it, It’s time to MOVE ON

GOL Album

Oleh: Mahardhika Utama

Artist: Glory Of Love

Album: Face it, Deal with it, It’s time to MOVE ON

Label: Turning Point Records

Face it, Deal with it, It’s time to MOVE ON adalah nama dari mini album (EP) teranyar milik band asal Bandung, Glory Of Love. Band beranggotakan Ivan (vokal/gitar), Igo (gitar), Herli (bass) dan Boriz (drum) berusaha untuk merubah citra emo yang desperate menjadi lebih optimist melalui EP yang berisikan 3 track ini.

Track pertama berjudul Perasaan Kontra Logika yang sebelumnya ada pada kompilasi album Linoleum Records dan track kedua berjudul Why yang juda terdapat pada album perdana mereka (Pembuktian). Jangan salah walaupun kedua track tersebut bisa dibilang materi lama, Ivan Cs merekam ulang  keduanya menjadi “lagu baru”. Masuknya Igo yang menggantikan posisi gitaris terdahulu membuat track Perasaan Kontra Logika menjadi sesuatu yang berbeda, kalau selama ini ForFriend mengidentikan melodic punk sebagai musik tiga grip maka kamu tidak akan menemukannya lagi di Glory Of Love. Lanjut ke track selanjutnya berjudul Why yang bernuansa orchestra. FYI: Why di album mereka sebelumnya merupakan lagu yang direkam secara full set dan berdistorsi namun kini lagu tersebut dirombak total menjadi mallow dan seakan-akan ingin berkata “Hello ladies, we’re Emo!” hehe.

Rasa Ini Tak Ada Lagi merupakan track terakhir yang juga merupakan single jagoan dari EP ini. Track ini menjadi titik balik dari segala kegundahan di dua track sebelumnya. Lagu dengan aransemen yang sangat menjual ini memberikan semangat baru untuk tidak desperate atau patah hati, it’s time to move on! Walaupun durasi lagu ini cukup lama, track ini tidak akan membosankan untuk kamu dengar berulang-ulang dan sangat recommended untuk kalian yang baru saja putus atau baru ditolak mentah-mentah sama cowok/cewek. EP ini dirilis dalam format CD yang dijual sepaket dengan merchandise mereka berupa Polo Shirt atau T-Shirt. Berhubung label mereka Turning Point Records hanya merilis EP ini secara terbatas, maka jangan sampai kamu patah hati karena tidak mendapatkan album teranyar Glory Of Love ini. Grab it now at Riotic Store, Arena Experience, Linoleum or call their manager on duty , Andri Rabit (022-92335882).

A Lovely Sunday With Mocca

Oleh: Mahardhika Utama

Setelah 10 tahun berkarier dan berkarya, Mocca yang digawangi oleh Arina Epiphania (vocal), Riko Prayitno (gitar), Achmad “Toma” Pratama (bass), Indra Massad (drum) memberikan kado kepada para penggila mereka yang menamakan dirinya Swinging Friends. Kado yang Mocca berikan adalah berupa mini album terbaru mereka yang dibuat khusus untuk Swinging Friends yang telah setia mendukung Mocca selama satu dekade.

DSC_0813

Dan kado itupun diperkenalkan kepada publik lewat satu gelaran yang bernama A Lovely Sunday With Mocca hari Minggu sore (11/6) di halaman belakang Lou Belle Setiabudi Bandung. Lucunya mini album teranyar yang merupakan kilas balik Mocca selama 10 tahun ini tidak diberi nama melainkan hanya berjudul Mini Album Mocca. “Nama albumnya apa? Namanya mini album, maaf ya gak kreatif namanya hehe”  kata Arina sambil tertawa di sela-sela penampilannya sore itu. Mini album yang berisi 7 lagu ini sebenarnya bukanlah lagu-lagu yang asing untuk para Swinging Friends karena berisikan single-single Mocca yang ada di berbagai kompilasi. “Mini album ini merupakan bentuk pendokumentasian single-single Mocca yang tercecer, EP ini juga sebagai “wadah” dan satu dokumentasi fisik” ujar Riko tentang mini album ini. Meskipun isi dari mini album ini merupakan kumpulan lagu lama, tapi beberapa lagu ada yang diaransemen dan diremix ulang oleh Giovani Guidi, seorang sound engineer asal Italia yang telah banyak membantu proses rekaman artis internasional seperti James Blunt dan Mike Stern.moccaloubelle

Show Mocca sore itu tidak dihadiri begitu banyak orang karena selain venue pagelaran launching mini album  ini kecil, pihak penyelenggara juga sengaja membuat acara ini ekslusif dengan mengundang Swinging Friends yang sudah membeli cd pada tahap pre-order seharga 35 ribu dan untuk mereka yang membeli di venue seharga 60 ribu sudah termasuk bonus merchandise dari Mocca dan tiket masuk. Packaging cd mini album Mocca kali ini dibentuk menjadi kartu ulang tahun menyesuaikan dengan tema ulang tahun Mocca yang ke-10. And it was the invitation, friends. Para ponggawa Mocca tampil santai sore itu, sebelum acara dimulai Arina Cs sempat berbincang-bincang terlebih dahulu mengenai sejarah terbentuknya Mocca yang ternyata di 2 tahun pertama mereka hanya latihan dan latihan, sampai akhirnya tampil di acara inagurasi kampus Itenas yang merupakan almamater mereka. Dalam bincang-bincang ringan itu juga Arina bercerita tentang beberapa dress yang sudah dipamerkan di Lou Belle, diantaranya dress yang ia pakai untuk show di Korea, dress yang digunakan untuk video klip, cover album,  dan sebagainya.DSC_0910

Dan kini tiba saatnya untuk Mocca tampil di atas panggung. Penonton yang sebelumnya berada di ruangan tengah digiring ke taman di halaman belakang Lou Belle yang sangat hommie. Sebagian penonton duduk lesehan di rumput dan sebagian lagi berdiri menyaksikan Mocca yang membuka aksinya dengan Promises untuk menepati janji Mocca tentang keluarnya album ini. Setelah itu secara berurutan Mocca bernostalgia lewat beberapa lagu dari album-album terdahulu mereka diantaranya Twist Me Around, You and Me Against The World, Seven Days Ago, Life Keeps On Turning, Me and My Boyfriend, Bundle of Joy, dll. Pada saat Arina menyanyikan lagu berjudul I Would Never yang pada album Friends berduet dengan Karolina Komstedt dari duo asal Swedia Club 8, namun kali ini Mocca meremix ulang lagu ini kedalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. Arina sempat beberapa kali lupa lirik, tapi bukan Mocca namanya kalau tidak bisa mengatasi hal-hal seperti itu. Arina tetap bernyanyi dan santai sambil sedikit melempar jokes khasnya kepada penonton.

DSC_0827

Tidak lupa band yang banyak terinspirasi oleh musisi-musisi handal semacam Frank Sinatra, The Beatles dan Weezer ini membawakan lagu-lagu yang ada di mini album terbarunya seperti Baby You’re A Fool, Listen To Me yang pernah menjadi theme song dari film layar lebar berjudul “Oh My God” besutan Rako Prijanto dan lagu berjudul Butterflies In My Tummies yang dibuat oleh Arina secara acoustic. Lagu ini menceritakan tentang perasaan seseorang yang berbunga-bunga ketika bertemu pujaan hatinya. Musiknya yang minimalis mampu menerjemahkan lirik dengan instrument yang dimainkan. Saat matahari mulai tenggelam, Mocca menutup penampilannya dengan lagu yang menjadi single di mini album ini yaitu Lucky Me. Tidak perlu bersusah payah untuk membuat Swinging Friends ikut bernyanyi karena hampir di semua lagu yang dibawakan selalu ada saja koor dari  penonton yang mengiringi Mocca, mungkin karena alasan itu pulalah mereka dinamakan Swinging Friends.

DSC_0802

Mini album Mocca ini dirilis oleh subdivisi Swinging Stars Management yaitu Lucky Me Music yang bekerja sama dengan label rekaman Fast Forward Records. Seperti album-album Mocca sebelumnya, mini album ini juga akan dirilis baik secara nasional maupun intersional. Ayo forfriends buruan dapetin cd-nya biar bisa ikutan nyanyi bareng Swinging Friends di shownya Arina, Rico, Toma, Indra dari Mocca. (Photos by: Diky Erfan Priliandi)

Generasi Abu-Abu; Ajang Berbagi Musisi Lintas Generasi

Oleh: Rizki.R)

GENERASI ABU-ABU: SPLIT ALBUM SENDAL JEPIT-THE FRUSTATERS @ SCORE CIWALK

Satu lagi kolaborasi menarik antara band yang sudah cukup lama terjun di dunia musik dengan sebuah band pendatang baru, yang mungkin belum di kenal luas. Ya malam itu (27/6) diadakan Launching Split Album Sendal Jepit dan The Frustaters berjudul “Generasi Abu-Abu”. Acara dilangsungkan di Score Ciwalk yang sangat mendukung event-event musik yang sering diadakan di kota bandung ini. Pada acara launching ini juga di isi dengan performance dari band asal Bandung lainnya, Restrain dan Under 18.

Acara sebenarnya diDSC_0025 mulai pada pukul 16.00, tapi mungkin karena berbagai masalah teknis acara baru di mulai sekitar 18.30. Dan karena sudah terbiasa dengan hal seperti itu, penonton dapat memakluminya. Pesta di buka dengan dengan penampilan dari band downcore, Restrain. Penampilan band yang satu ini cukup memuaskan dahaga para penonton yang sudah lama tidak menyaksikan live performance mereka. Membawakan lagu Weak Chapter 2, Rise From The Dead, Gemini Killer, dan lainnya. Kemudian di lanjut dengan penampilan dari Under 18 dengan lagu-lagu dari album pertama mereka seperti Bandung Brotherhood dan Loyalitas.

Dan ini saatnya untuk sang empunya pesta. The Frustaters, band melodic punk dengan vokalis wanita yang pada 2009 lalu sempat mengeluarkan EP yang berjudul My Own Distortion. Vokalis Eva Soraya yang mengenakan kaos bermotif bendera Amerika ini mengajak penonton bernyani dengan lagu-lagu dari split album mereka (bersama Sendal Jepit) seperti Teringat Karena Waktu, Berhenti Berlari, Terhempas Lagi, dan Penghianatan. Materi lagu mereka di album Generasi Abu-Abu ini sedikit berbeda dengan music mereka di awal kemunculannya pada tahun 2001 yang kental dengan bit drum dan three chord khas ala melodic punk, kini The Frustaters menawarkan music yang lebih catchy dengan sentuhan pop namun tidak menghilangkan roots mereka sebagai band melodic punk.

DSC_0045

DSC_0050

Dan inilah penutup  yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya, siapa lagi kalau bukan Sendal Jepit. Band yang menjadi saksi hidup sejarah perkembangan scDSC_0081ene music underground/indie/you name it sejak kehadirannya di tahun 1992.  Ya, betul band ini sudah ada ketika kebanyakan crew Formagz masih ingusan. Kalau kalian ingat dengan salah satu event legendaries di Saparua tahun 1995 bernama Hullabaloo 2, di situlah Sendal Jepit yang waktu itu diisi oleh Andri (vocal), Randi (gitar), Maruli (gitar), Toran (bass) dibantu oleh drummer Bez dari Helm Proyek pertama kali tampil di event yang terbilang cukup besar (karena menurut cerita-cerita yang  saya yang saya baca sebelumnya mereka biasa tampil di acara-acara sekolahan). Jadi, untuk adik-adik harap diketahui Sendal Jepit itu bukan band kemaren sore yang muncul setelah Pee Wee Gaskins (beberapa waktu lalu kami sempat mendengar celotehan anak-anak SMP di angkutan umum tentang hal itu). Band yang meroket salah satunya berkat lagu berjudul Nina ini sudah beberapa kali mengalami pergantian personil, tercatat Andri (founder Sendal Jepit), Maruli (The Marmars), Ijan (Close Head), dll saya lupa pernah menjadi bagian dari band ini. Kini,  di tahun 2010 Sendal Jepit yang digawangi oleh Randi (gitar/vocal), Brew (gitar/vocal), Toran (bass) dan Obo (drum) kembali mengeluarkan albumnya setelah pada tahun 2002 mereka mengeluarkan full albumnya yang diberi nama Ini Bukan Album Metal Sendal Jepit.

Di album ini jelas Sendal Jepit tampil tanpa Andri yang telah mengunDSC_0075durkan diri pada tahun 2007 lalu. Namun dengan formasi terbarunya kini, Sendal Jepit menawarkan warna baru namun tetap khas ala Sendal Jepit yang pernah sangat terinspirasi oleh Bad Religion. Lagu-lagu di split album ini seperti While The sand Is Sleeping, The Sold Of free Nation, Take It To The Ground, dan lagu baru lainnya dimainkan Randi Cs dengan penuh energy. Sayang, nampaknya pesta launching album dari 2 band lintas generasi malam itu harus dipersingkat. Dalam rundown acara seharusnya ada penampilan kolaborasi dari Sendal Jepit dan The Frustaters. Mungkin karena malam itu Score rutin mengadakan acara Nonton Bareng Piala Dunia, sehingga ada beberapa jadwal di rundown yang harus di cut.

Sebenarnya konsep dari launching album Generasi Abu-Abu ini sangat menarik, yaitu di mana perbedaan generasi tidak menghalangi mereka untuk berbagi dan berkolaborasi dalam satu album yang sama. Point terpentingnya adalah tidak mencipatakan jarak antara senior dan junior (Walaupun kami tidak suka dengan istilah “senior/junior” ini). Intinya adalah sikap saling saling menghormati antara band yang satu dengan yang lainnya. Respect and congrats for Generasi Abu-Abu Sendal Jepit x The Frustaters!

Interview Bersama Elemental Gaze

Oleh: Rizki Rahadiyan

Kreatifitas itu adanya di Pikiran dan Hati para pembuatnya.. kalo kedua itu sedang memuncak, bisa Infinite Creativity -Elemental Gaze

Bandung bisa di bilang memang gudang nya orang-orang kreatif, bisa di tiap gang kecil di Kota Bandung terdapat band yang di isi orang-orang kreatif kreatif didalamnya, makElemental Gazea tak heran bila kota ini dijuluki Creative City. Formagz kali ini berkesempatan melakukan  interview dengan satu band yang beberapa waktu lalu baru melakukan Singapore Tour nya. Ya, mereka adalah ELEMENTAL GAZE. Meskipun sesi interview dilaksanakan via email, dikarenakan kesibukan para personel nya (Fuad Abdulgani, Bilfian Sugiana, Lutfi Kurniadi). Sehingga kami tidak bisa bertemu langsung dengan mereka, tetapi tidak mengurangi rasa antusias kami untuk segera membuat daftar pertanyaan untuk mereka. Berikut interview kami dengan Elemental Gaze yang diwakili oleh Fuad Abdulgani (acoustic guitar) dan Lutfi Kurniadi (acoustic&electric guitar).

Formagz: Bisa diceritakan bagaimana awal terbentuknya Elemental Gaze ?

Fuad (F) : EG dibentuk atas inisiatif aku yg ingin bikin project musik-visual dalam satu kemasan, lalu aku ngajak teman sebangku SMA-ku, Myrdal yg suka bikin video-film pendek buat gabung, konsepnya, aku buat lagu, Myrdal buat video..Aku dapet nama Elemental Gaze dari lagunya Robin Guthrie – “Elemental”, dari situ aku dan Myrdal mulai buat lagu-lagu EG.

Formagz: Bagaimana proses kalian dalam menciptakan musik&lirik ?

F: Biasanya aku yang buat komposisi utama lagu, lalu dikasih dengar ke Bilan dan Luthfi…Luthfi nambahin gitar, sedangkan Bilan ngedit lagi loops lagunya. Setelah itu aku edit, dan lempar lagi ke Bilan dan Luthfi, terus begitu sampai dapat komposisi yang pas. Beberapa lagu ada Bilan dan Luthfi yang bikin, prosesnya hampir sama, kita saling edit dan nambah-nambahin part yang cocok.

Kalau lirik, aku jarang sekali buat lagu pake lirik. Untuk nyampein maksud atau latar belakang cerita tiap lagu, aku bikin judul lagu yang emang merepresentasikan isi lagu itu. Kalau lirik, lahirnya lirik itu sendiri sewaktu aku improve nyanyi spontan di panggung, irama dan lirik lalu aku cocokin dengan judul/maksud lagu itu, sampe ketemu komposisi teks yang pas. Ada juga beberapa lagu Lutfi yang buat liriknya (kalo ga salah 2 lagu ya, God Knows sama Actually Storm), Kalau itu Lutfi yang tau prosesnya…

Lutfi (L): Iya, sama seperti yangg Fuad bilang, dia nyanyi spontan di panggung, terus saya yang mencoba menelaah kata-kata apa yang Fuad sebut di atas panggung. Semuanya datang begitu saja, ketika tiba-tiba terbayang suasana hati yang cocok dengan judul lagu dan musik yang dibuat Bilan.

Formagz: Apakah (lirik) berdasarkan pengalaman pribadi&pengalaman di lingkungan sekitar kalian?

F: Kalau aku, tentu, banyaknya pengalaman pribadi, seperti respon atas situasi yang sedang aku alamin, atau pandanganku terhadap banyak hal, misalnya tentang hidup dan peradaban, ada juga beberapa lagu yang aku buat karena inspirasi dari buku yang aku baca atau film yg sudah kutonton (seperti “Let Me Erase You” dan “My Liife Without Me”). Semua lagu itu bagiku seperti respon terhadap apa yang dialamin.

L: Iya, kebanyakan pengalaman pribadi si Fuad. Hehehe.. Kalau saya bikin lirik terkadang tentag penggambaran lingkungan sekitar dan suasana hati.

Formagz: Kalian menyebut musik kalian apa? Dan apa alasannya?

F: Kalau aku lebih sering nyebutin Dreampop daripada shoegaze/nugaze karena karakter sound-sound yang mengawang dan ambience yang ada dalam lagu EG, jadi cocok kan dengan term “Dream” itu sendiri, kayanya bawaannya ngawang dan terbang tapi slow melulu. Kalau menimang shoegaze, kayanya bagiku kurang sreg karena yang ada di pikiranku shoegaze mah karakter soundnya harus “garang”, dan bersumber dari gitar itu, identik sih. Terpikir juga kalau nyebut musik EG itu elektronik, tapi menurutku itu hanya karena dominan sound dan emang media bikin lagunya pake software, electronis devices/sounds dsb, jadi “electronic” bagiku itu karena media dalam membuat lagunya aja.

L: Tenang, untuk lagu-lagu berikutnya akan dibawa ke arah lebih Psychadelic Raw Shoegaze heaiehihe.. (Kiddin’). Tergantung siapa yang membuat baseline sih. Kalau Fuad mengawang dengan Rhodes nya, Saya terkadang Dreamy Reverb & Delay, terkadang Droning Riff Drop C & a little bit noise. Kalau Bilan mungkin ke arah Dance upbeat. Dan kami menikmati semua itu.

Formagz: Bagaimana awalnya musik kalian bisa di kenal oleh banyak orang? Dan bisa tampil di berbagai festival musik di luar negeri?

F: Kayanya yang paling gencar lewat myspace ya, meskipun waktu belum pakai myspace lagu-lagu EG udah disebar jg ke temen-temen dan dari temen-temen itulah, temen dari manapun, yang sangat berjasa buat menyebarluaskannya lagi ke temen-temen mereka yang mungkin kita juga gatau siapa, jadi kasarnya ya beruntung juga dengan pembajakan lagu-lagu, hehe. Kalau yang nyantol dengan orang-orang dari luar negeri itu ya myspace yang berjasa, aku juga gatau tuh, ada aja org yang dengerin, dan yang paling seneng ketika mereka itu ngajak ngobrol soal lagu EG.

L: Saya juga sering bingung, “koq bisa yah sampe ke Spanyol?? Uganda? Atau EG sampai ke pengunungan Fiji”.. ga terbayang saja.. Dunia maya memang luar biasa. :p

Formagz: Belakangan ini kalian baru saja tampil di Singapura, Bagaimana apresiasi orang-orang disana dengan music yang kalian usung?

F: Apresiatif…Disana penonton beragam, ga anak muda aja (apalagi yg tipikal seperti di gigs-gigs di bandung yang pernah kita manggung) tapi ada juga yang keliatan udah dewasa, bapak-bapak,  ibu-ibu, ada juga yang sambil bawa anak kecil, bahkan kakek-kakek & nenek-nenek, dari beragam dandanan pula, mereka apresiatif kalo kita manggungnya bagus, apik. Dan yang bener-bener suka bisa keliatan, karena biasanya mereka yang suka beli cd atau baju setelah manggung kita usai.

L: Singapura adalah negara yg sangat beragam dan terbuka. Di sana adalah lahan apresiasi tertinggi di Asia Tenggara I think.

Formagz: Dalam beberapa aksi panggung, kalian selalu bilang “ditemani secangkir bintang” (kalo saya tidak salah dengar), bisa dijelaskan maksudnya?

F: Oh, itu, hehe…secangkir bintang itu sebenarnya judul buku puisi Sinta Ridwan (pacarku, hehe), judul puisinya juga, lengkapnya “Seteguk malam, secangkir bintang”. Sebenernya baru 1 kali publikasi dengan menyertakan “Ditemani secangkir bintang”, itu waktu launching bukunya Sinta Ridwan, dan waktu acara itu EG dan performers yang lain di acara itu bacain puisinya Sinta juga, jadi ya kira-kira maksudnya, dalam acara itu ditemani puisi-puisi dari buku secangkir bintang, kalo yang lainnya, pernah dibacain juga puisi Sinta waktu manggung di Singapura.

L: Secangkir Bintang atau Sebotol sih Fu?Bil? hehehehe.

Formagz: Bagaimana pendapat kalian tentang istilah Musik Kamar ? Yang saat ini banyak menginspirasi band-band elektronik lainnya

F: Pendapatnya, ya asik-asik aja, hehe…asiknya jadi makin banyak orang yang bisa bikin lagu sendiri, produksi lagu sendiri, hemat kan, bisa menekan biaya sewa studio dan lagi bisa ngelatih skill personal buat mengolah-suara (sound) di beragam software yg dipake.

Formagz: Menurut kalian Musik Kamar justru membatasi kreatifitas atau malah bebas bisa meng-explore sound ?

F: Menurutku bukan karena kategori Musik Kamar-nya, tapi gimana orangnya. Komputer, alat-alat musik, dan kamar kan bisa disebut media aja, tapi seperti apa optimalnya media itu digunakan tergantung orang yang menggunakan media itu. Aku pernah mikir, di dalam skup rumah aja, itu penuh dengan suara-suara keren, bisa dicoba untuk mukul setiap perkakas atau alat apapun yang ada di rumah, pasti ngasilin suara beragam, belum lagi suara pintu ato pagar karatan yang didorong pelan-pelan (yang bunyinya “nyrekkkk…ngrekkkk…ngrekk”), ato suara kipas angin, pompa air..menurutku –keren-keren itu. Bayangin aja klo kita rekam satu-satu itu suara lalu kita ramu jadi satu komposisi kan bisa jadi musik yang mengasyikkan, tapi klo kita ngeliat semua barang-barang yang ada di rumah biasa-biasa aja, sebagaimana barang itu adanya, sebagaimana fungsinya, ya udah sampe disitu aja.

L: Kreatifitas itu adanya di Pikiran dan Hati para pembuatnya.. kalo kedua itu sedang memuncak, bisa Infinite Creativity.

Formagz: Let’s talk about Bandung. Bagaimana keadaan kota Bandung saat ini? Dibandingkan ketika kalian masih kecil?

F: Aduh, semakin malas rasanya ada di kota, apalagi klo macet, padat, aku paling ga kuat dengan polusi udara, sesek di jalan. Klo kita naek ke daerah gunung/tinggi di pinggiran kota Bandung dan liat ke arah cekungan bandung (kota) itu keliatan ada kabut yang nutupin kota meskipun langit diatas kita lihat biru cerah…parah kan itu polusi udaranya…

Klo masa kecil, yah, lingkungan tempat tinggal pokoknya lebih menyenangkan dari sekarang.

L: Kota Bandung yaaa.. masih tetap luar biasa sih di mata saya terlepas dari apa-apa yang terasa “menurun”  di dalam tubuhnya. Tapi tetap luar biasa. Waktu kecil saya jarang ke Bandung..hehe..

Formagz: Saat ini isu lingkungan menjadi isu global yang sering banyak dibahas di berbagai tempat. Pendapat kalian dengan Global Warming? Kalian percaya? Kenapa?

F: Klo tentang global warming dan perubahan iklimnya sendiri aku percaya karena aku ngerasain juga, contohnya dari suhu udara yang naik dan musim hujan-kemarau udah ga jelas…Tapi klo dengan berhamburannya omongan tentang global warming itu aku curiga, aku percaya isu seksi ini jadi barang dagangan doang buat para korporasi untuk punya pasar lagi dengan inovasi di produk yang melabelkan dirinya dengan isu lingkungan, ramah lingkungan, go green lah…Padahal korporasi-korporasi itu sendiri dengan pabrik-pabrik gedenya yang bikin lingkungan rusak, buang limbah ga henti-henti, eh, dengan baiknya pula ngajak untuk ramah lingkungan, dusta banget….juga dgn konferensi lintas negara tentang pembahasan iklim, palsu itu, udah banyak kok berita yg bisa ditemui tentang betapa tidak transparannya dan adanya kecurangan data dalam konferensi tersebut yang malah diungkap sendiri ama ilmuwan yang terlibat di dalamnya, udah masuk ranah ekonomi-politik negara-negara industri besar ya gitu lah, banyak intrik, boong belaka…kayanya bumi mau rusak ato ancur juga ga masalah asal masih bisa ada profit untuk direguk…meskipun di satu sisi juga emg muncul beberapa aktivitas kelompok-kelompok yang mulai ngegerakin gaya-hidup jg cara-hidup yg lebih ramah terhadap lingkungan tanpa embel2 komoditi2 “go green”…

L: Global Warming itu hanya sebuah siklus seleksi alam dan cara Tuhan memberi tahu makhluk-makhluknya kalo setiap aksi akan ada reaksi.. Cepat atau lambat pasti terjadi..

Formagz: Saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya untuk membuat taman kota, bagaimana menurut kalian?

F: Kalo bener, ya bagus, kalo mau dibangun taman kota, lebih banyak ruang publik, lebih asyik. Asalkan publik ato warga kota juga bisa punya akses leluasa untuk berkegiatan di taman itu, ga dengan perizinan ke birokrasi ato aparat yang ribet, setiap orang punya hak yang sama dan ga ada dominasi kelompok tertentu ato bahkan penyusupan korporasi tertentu ke dalam ruang publik itu.

L: Taman kota saya setuju koq. Yang paling bermasalah di Indonesia ini cuma korupsi nya koq.. dari korupsi nya itu yang merembet kemana-mana, duit anggaran bikin taman kota masuk perut, duit anggaran aspal, pendidikan, transportasi, dll. Semua nya masuk perut, makanya patut mati orang-orang korup itu!

Formagz: Apakah sebaiknya biaya dari pembuatan taman kota tersebut digunakan untuk biaya pendidikan anak tidak mampu, kesehatan, kebersihan di kota Bandung?

F: Menurutku, mau agenda pembuatan taman kota ada atau tidak, yang namanya kesehatan, pendidikan anak tidak mampu, kebersihan, itu mah udah tanggung jawab negara, udah dibilang di UUD dan itu wajib hukumnya. Jadi ya seharusnya emang pemerintah udah punya agenda dan dana khusus tanpa kompromi buat hal itu.

L: Setuju sama Fuad. Ga ada alasan koq untuk menunda-nunda hal-hal di atas.. ga ada alasan sama skali.

Formagz: Kondisi sosial di kota Bandung saat ini bagaimana menurut kalian? Hampir di setiap perempatan jalan selalu ada anak jalanan/gelandangan/pengemis

F: Ya gitu aja, kondisi khas perkotaan, ada yang kaya banget, yang miskin bgt banyak.

L: Perasaan hampir di seluruh kota besar di Indonesia ada fenomena itu. Sebenernya mereka itu jadi berkah, jadi pengingat kita yang mampu. Harusnya manusia-manusia mampu, siap dan sigap untuk memberantas kemiskinan. Toh win-win solution juga koq..

Formagz: Apakah ini akibat kurangnya perhatian pemerintah? Atau seharusnya kita yang langsung bergerak mengatasi hal ini daripada menunggu tindakan dari pemerintah?

F: Kayanya selalu kurang ya, hehe…ya ga usah nunggu pemerintah juga…kita hidup kan berkelompok, pemerintah ada dimanaa, kita dimana, yang tau masalah dan cara nanganin masalah kelompok ya yang ada di kelompok itu.

L: Lakukan saja hal-hal kecil dulu, yang bisa setidaknya mengurangi beban sodara-sodara kita itu.

Formagz: Pertanyaan terakhir, seandainya salah satu dari kalian harus menjadi Walikota Bandung. Hal pertama apa yang akan dilakukan?

F: Aku gamau…kamu gimana bil (klo lu kan bukan warga bdg fi, tp jd walikota jkt aja ya, hehe)

Wuiihh, Formagz salut banget sama jawaban-jawaban Lutfi dan Fuad dari Elemental Gaze yang cerdas sekali. Jadi gak heran kenapa musik mereka unik dan cerdas karena ternyata diluar bermusik pun  pemikiran dan pandangan mereka tentang hal-hal lain sangat cerdas. Mau denger lagu mereka dan tau update-update show mereka, pantengin terus Elemental Gaze di www.myspace.com/elementalgaze

(Photo by Elemental Gaze docs.)

Fete de la Musique; Pesta Musik Untuk Semua Golongan

Oleh: Hamdi Sign

Pesta identik dengan perayaan dimana semua orang bersuka ria. Hal ini terjadi pada akhir pekan kemarin Minggu (20/6) Cental Cultural Francise (CCF) menggelar Fete de la Musique yang bertempat di Teater Terbuka Dago Tea House. Fete de la Musique adalah sebuah perayaan musik yang di luncurkan di Perancis pada tahun 1982. Perayaan ini di peringati setiap tanggal 21 Juni oleh 100 negara di lima benua. Biasanya pentunjukan ini digelar di tempat terbuka seperti; jalan, gedung-gedung besar, taman dan tempat terbuka lainnya.Fete Manda

Untuk datang kesini, Forfriends tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Karena acara ini tidak dipungut biaya alias gratis. Fete de la Musique dimulai sejak siang hari yang terasa sejuk di sekitar Dago Tea House dan dibuka oleh penampilan ciamik dari band indiepop Baby Eats Crackers. Mereka menghadirkan musik yang ringan dan ceria. Lagu lagu seperti “Kissh Kissh”, “Cleo Radio”, dan “Aloha Opa” yang menceritakan tentang dosen mereka dinyanyikan vokalis Ay dengan ceria. Penampilan selanjutnya dari seorang solois bernama Budie lengkap dengan gitarnya. Budie yang biasa bermain secara solo, kali ini ditemani oleh teman-temannya yang cukup membangun suasana semakin ramai.

Penonton sepertinya belum mau mendekat ke depan crowd. Tapi itu tidak bertahan lama. Saat Mocca tampil sebagian mulai mendekat ke depan crowd sehingga tercipta sebuah kebersamaan dalam kehangatan. Arina, vokalis dari Mocca terlihat anggun dengan gaun merah yang ia kenakan. Ia mulai bernyanyi sambil sesekali tersenyum, penonton di crowd depan ikut bernyanyi di nomor-nomor yang sudah tidak asing lagi seperti “Only One”, “I Remember” dan “Do What You Wanna Do”. Tidak lupa Mocca memperkenalkan single barunya yang berjudul “Lucky Me”. Lagu ini akan ada di mini album terbaru mereka berjudul “Sneak Peek”. Mocca menutup penampilannya d Fete de la Musique dengan lagu berjudul “Happy”  dan penonton pun tampak happy dengan penampilan Arina Cs hari itu.

Fete Dina

Setelah istirahat sejenak, Homogenic telah siap untuk memeriahkan perayaan musik ini. Kehadiran Amandia sebagai vokalis baru memberikan warna baru pada band electropop ini. Malam ini mereka dibantu oleh additional player diantanya Iman (bass), Gebeg (drum), dan Maradila (backing vocal). Homogenic langsung membuka penampilannya dengan lagu “Surealism”, jepretan kamera tidak henti tertuju pada sosok Manda yang kini menjadi idola baru di Homogenic. “Am I” jadi lagu kedua yang diambil dari album terbaru mereka “Let A Thousand Flowers Bloom” dilanjutkan dengan lagu ”Destiny”, “Something I Can’t Hide” dan “Weeping Mother Earth”. Hampir sepuluh lagu dibawakan oleh Homogenic termasuk lagu lama yang diaransemen ulang berjudul “Utopia” yang menjadi penutup penampilan mereka.

La voila! Miliana adalah satu-satunya penampil internasional yang mejeng di Fete de la Musique. Yes, Miliana band asal Perancis yang tampil malam ini yang beranggotakan Emilie Garcia (vokal, gitar), Laurent Cochini (gitar), Franck Da Silva (drum) dan Mathys Dubois (bass). Mereka mengusung aliran musik pop akustik dengan lirik lagu berbahasa inggris. Sehabis bernyanyi beberapa lagu, Miliana mencoba menyapa penonton dengan bahasa Sunda “Kumaha Damang?” dan penonton membalasnya dengan teriakan “Damang”. Di akhir penampilannya band ini mengabadikan moment bersama penonton dengan kamera ponsel mereka. Kehadiran Miliana yang berasal dari negeri menara Eiffel berhasil menghadirkan atmosfir Perancis di kota Bandung, dats the good point of Fete de la Musique.

Fete Miliana

Kini tiba saatnya di penghujung acara Fete de la Musique. Pure Saturday jadi band penutup malam ini. Penampilan mereka malam itu menepis kabar tentang bubarnya band ini. Kehadiran Pure Saturday selalu di tunggu-tunggu oleh pecinta musik di Bandung, penonton di crowd depan berdiri dan merapat ke dekat panggung. “Elora” jadi salam pembuka dan membuat penonton hanyut dalam alunan musik dari Pure Saturday. Iyo cs tampak bersemangat sekali malam ini. “Bangku Taman”, “Desire”, “Pagi”, “Awan” terus dimainkan untuk memuaskan penonton. Semuanya bernyanyi dalam kegembiraan pesta di tengah cuaca kota Bandung yang sedang bersahabat hari itu. Sesuai dengan permintaan dari semua penonton, Pure Saturday menutup penampilanya dengan encore berjudul “Kosong”. Fete de la Musique berakhir pada pukul 22.00. Terima kasih kepada CCF yang telah membuat perayaan musik indah untuk semua golongan ini. Sampai berjumpa di Fete de la Musique tahun depan.

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes