Oleh: Rizki Rahadiyan
Kreatifitas itu adanya di Pikiran dan Hati para pembuatnya.. kalo kedua itu sedang memuncak, bisa Infinite Creativity -Elemental Gaze
Bandung bisa di bilang memang gudang nya orang-orang kreatif, bisa di tiap gang kecil di Kota Bandung terdapat band yang di isi orang-orang kreatif kreatif didalamnya, mak
a tak heran bila kota ini dijuluki Creative City. Formagz kali ini berkesempatan melakukan interview dengan satu band yang beberapa waktu lalu baru melakukan Singapore Tour nya. Ya, mereka adalah ELEMENTAL GAZE. Meskipun sesi interview dilaksanakan via email, dikarenakan kesibukan para personel nya (Fuad Abdulgani, Bilfian Sugiana, Lutfi Kurniadi). Sehingga kami tidak bisa bertemu langsung dengan mereka, tetapi tidak mengurangi rasa antusias kami untuk segera membuat daftar pertanyaan untuk mereka. Berikut interview kami dengan Elemental Gaze yang diwakili oleh Fuad Abdulgani (acoustic guitar) dan Lutfi Kurniadi (acoustic&electric guitar).
Formagz: Bisa diceritakan bagaimana awal terbentuknya Elemental Gaze ?
Fuad (F) : EG dibentuk atas inisiatif aku yg ingin bikin project musik-visual dalam satu kemasan, lalu aku ngajak teman sebangku SMA-ku, Myrdal yg suka bikin video-film pendek buat gabung, konsepnya, aku buat lagu, Myrdal buat video..Aku dapet nama Elemental Gaze dari lagunya Robin Guthrie – “Elemental”, dari situ aku dan Myrdal mulai buat lagu-lagu EG.
Formagz: Bagaimana proses kalian dalam menciptakan musik&lirik ?
F: Biasanya aku yang buat komposisi utama lagu, lalu dikasih dengar ke Bilan dan Luthfi…Luthfi nambahin gitar, sedangkan Bilan ngedit lagi loops lagunya. Setelah itu aku edit, dan lempar lagi ke Bilan dan Luthfi, terus begitu sampai dapat komposisi yang pas. Beberapa lagu ada Bilan dan Luthfi yang bikin, prosesnya hampir sama, kita saling edit dan nambah-nambahin part yang cocok.
Kalau lirik, aku jarang sekali buat lagu pake lirik. Untuk nyampein maksud atau latar belakang cerita tiap lagu, aku bikin judul lagu yang emang merepresentasikan isi lagu itu. Kalau lirik, lahirnya lirik itu sendiri sewaktu aku improve nyanyi spontan di panggung, irama dan lirik lalu aku cocokin dengan judul/maksud lagu itu, sampe ketemu komposisi teks yang pas. Ada juga beberapa lagu Lutfi yang buat liriknya (kalo ga salah 2 lagu ya, God Knows sama Actually Storm), Kalau itu Lutfi yang tau prosesnya…
Lutfi (L): Iya, sama seperti yangg Fuad bilang, dia nyanyi spontan di panggung, terus saya yang mencoba menelaah kata-kata apa yang Fuad sebut di atas panggung. Semuanya datang begitu saja, ketika tiba-tiba terbayang suasana hati yang cocok dengan judul lagu dan musik yang dibuat Bilan.
Formagz: Apakah (lirik) berdasarkan pengalaman pribadi&pengalaman di lingkungan sekitar kalian?
F: Kalau aku, tentu, banyaknya pengalaman pribadi, seperti respon atas situasi yang sedang aku alamin, atau pandanganku terhadap banyak hal, misalnya tentang hidup dan peradaban, ada juga beberapa lagu yang aku buat karena inspirasi dari buku yang aku baca atau film yg sudah kutonton (seperti “Let Me Erase You” dan “My Liife Without Me”). Semua lagu itu bagiku seperti respon terhadap apa yang dialamin.
L: Iya, kebanyakan pengalaman pribadi si Fuad. Hehehe.. Kalau saya bikin lirik terkadang tentag penggambaran lingkungan sekitar dan suasana hati.
Formagz: Kalian menyebut musik kalian apa? Dan apa alasannya?
F: Kalau aku lebih sering nyebutin Dreampop daripada shoegaze/nugaze karena karakter sound-sound yang mengawang dan ambience yang ada dalam lagu EG, jadi cocok kan dengan term “Dream” itu sendiri, kayanya bawaannya ngawang dan terbang tapi slow melulu. Kalau menimang shoegaze, kayanya bagiku kurang sreg karena yang ada di pikiranku shoegaze mah karakter soundnya harus “garang”, dan bersumber dari gitar itu, identik sih. Terpikir juga kalau nyebut musik EG itu elektronik, tapi menurutku itu hanya karena dominan sound dan emang media bikin lagunya pake software, electronis devices/sounds dsb, jadi “electronic” bagiku itu karena media dalam membuat lagunya aja.
L: Tenang, untuk lagu-lagu berikutnya akan dibawa ke arah lebih Psychadelic Raw Shoegaze heaiehihe.. (Kiddin’). Tergantung siapa yang membuat baseline sih. Kalau Fuad mengawang dengan Rhodes nya, Saya terkadang Dreamy Reverb & Delay, terkadang Droning Riff Drop C & a little bit noise. Kalau Bilan mungkin ke arah Dance upbeat. Dan kami menikmati semua itu.
Formagz: Bagaimana awalnya musik kalian bisa di kenal oleh banyak orang? Dan bisa tampil di berbagai festival musik di luar negeri?
F: Kayanya yang paling gencar lewat myspace ya, meskipun waktu belum pakai myspace lagu-lagu EG udah disebar jg ke temen-temen dan dari temen-temen itulah, temen dari manapun, yang sangat berjasa buat menyebarluaskannya lagi ke temen-temen mereka yang mungkin kita juga gatau siapa, jadi kasarnya ya beruntung juga dengan pembajakan lagu-lagu, hehe. Kalau yang nyantol dengan orang-orang dari luar negeri itu ya myspace yang berjasa, aku juga gatau tuh, ada aja org yang dengerin, dan yang paling seneng ketika mereka itu ngajak ngobrol soal lagu EG.
L: Saya juga sering bingung, “koq bisa yah sampe ke Spanyol?? Uganda? Atau EG sampai ke pengunungan Fiji”.. ga terbayang saja.. Dunia maya memang luar biasa. :p
Formagz: Belakangan ini kalian baru saja tampil di Singapura, Bagaimana apresiasi orang-orang disana dengan music yang kalian usung?
F: Apresiatif…Disana penonton beragam, ga anak muda aja (apalagi yg tipikal seperti di gigs-gigs di bandung yang pernah kita manggung) tapi ada juga yang keliatan udah dewasa, bapak-bapak, ibu-ibu, ada juga yang sambil bawa anak kecil, bahkan kakek-kakek & nenek-nenek, dari beragam dandanan pula, mereka apresiatif kalo kita manggungnya bagus, apik. Dan yang bener-bener suka bisa keliatan, karena biasanya mereka yang suka beli cd atau baju setelah manggung kita usai.
L: Singapura adalah negara yg sangat beragam dan terbuka. Di sana adalah lahan apresiasi tertinggi di Asia Tenggara I think.
Formagz: Dalam beberapa aksi panggung, kalian selalu bilang “ditemani secangkir bintang” (kalo saya tidak salah dengar), bisa dijelaskan maksudnya?
F: Oh, itu, hehe…secangkir bintang itu sebenarnya judul buku puisi Sinta Ridwan (pacarku, hehe), judul puisinya juga, lengkapnya “Seteguk malam, secangkir bintang”. Sebenernya baru 1 kali publikasi dengan menyertakan “Ditemani secangkir bintang”, itu waktu launching bukunya Sinta Ridwan, dan waktu acara itu EG dan performers yang lain di acara itu bacain puisinya Sinta juga, jadi ya kira-kira maksudnya, dalam acara itu ditemani puisi-puisi dari buku secangkir bintang, kalo yang lainnya, pernah dibacain juga puisi Sinta waktu manggung di Singapura.
L: Secangkir Bintang atau Sebotol sih Fu?Bil? hehehehe.
Formagz: Bagaimana pendapat kalian tentang istilah Musik Kamar ? Yang saat ini banyak menginspirasi band-band elektronik lainnya
F: Pendapatnya, ya asik-asik aja, hehe…asiknya jadi makin banyak orang yang bisa bikin lagu sendiri, produksi lagu sendiri, hemat kan, bisa menekan biaya sewa studio dan lagi bisa ngelatih skill personal buat mengolah-suara (sound) di beragam software yg dipake.
Formagz: Menurut kalian Musik Kamar justru membatasi kreatifitas atau malah bebas bisa meng-explore sound ?
F: Menurutku bukan karena kategori Musik Kamar-nya, tapi gimana orangnya. Komputer, alat-alat musik, dan kamar kan bisa disebut media aja, tapi seperti apa optimalnya media itu digunakan tergantung orang yang menggunakan media itu. Aku pernah mikir, di dalam skup rumah aja, itu penuh dengan suara-suara keren, bisa dicoba untuk mukul setiap perkakas atau alat apapun yang ada di rumah, pasti ngasilin suara beragam, belum lagi suara pintu ato pagar karatan yang didorong pelan-pelan (yang bunyinya “nyrekkkk…ngrekkkk…ngrekk”), ato suara kipas angin, pompa air..menurutku –keren-keren itu. Bayangin aja klo kita rekam satu-satu itu suara lalu kita ramu jadi satu komposisi kan bisa jadi musik yang mengasyikkan, tapi klo kita ngeliat semua barang-barang yang ada di rumah biasa-biasa aja, sebagaimana barang itu adanya, sebagaimana fungsinya, ya udah sampe disitu aja.
L: Kreatifitas itu adanya di Pikiran dan Hati para pembuatnya.. kalo kedua itu sedang memuncak, bisa Infinite Creativity.
Formagz: Let’s talk about Bandung. Bagaimana keadaan kota Bandung saat ini? Dibandingkan ketika kalian masih kecil?
F: Aduh, semakin malas rasanya ada di kota, apalagi klo macet, padat, aku paling ga kuat dengan polusi udara, sesek di jalan. Klo kita naek ke daerah gunung/tinggi di pinggiran kota Bandung dan liat ke arah cekungan bandung (kota) itu keliatan ada kabut yang nutupin kota meskipun langit diatas kita lihat biru cerah…parah kan itu polusi udaranya…
Klo masa kecil, yah, lingkungan tempat tinggal pokoknya lebih menyenangkan dari sekarang.
L: Kota Bandung yaaa.. masih tetap luar biasa sih di mata saya terlepas dari apa-apa yang terasa “menurun” di dalam tubuhnya. Tapi tetap luar biasa. Waktu kecil saya jarang ke Bandung..hehe..
Formagz: Saat ini isu lingkungan menjadi isu global yang sering banyak dibahas di berbagai tempat. Pendapat kalian dengan Global Warming? Kalian percaya? Kenapa?
F: Klo tentang global warming dan perubahan iklimnya sendiri aku percaya karena aku ngerasain juga, contohnya dari suhu udara yang naik dan musim hujan-kemarau udah ga jelas…Tapi klo dengan berhamburannya omongan tentang global warming itu aku curiga, aku percaya isu seksi ini jadi barang dagangan doang buat para korporasi untuk punya pasar lagi dengan inovasi di produk yang melabelkan dirinya dengan isu lingkungan, ramah lingkungan, go green lah…Padahal korporasi-korporasi itu sendiri dengan pabrik-pabrik gedenya yang bikin lingkungan rusak, buang limbah ga henti-henti, eh, dengan baiknya pula ngajak untuk ramah lingkungan, dusta banget….juga dgn konferensi lintas negara tentang pembahasan iklim, palsu itu, udah banyak kok berita yg bisa ditemui tentang betapa tidak transparannya dan adanya kecurangan data dalam konferensi tersebut yang malah diungkap sendiri ama ilmuwan yang terlibat di dalamnya, udah masuk ranah ekonomi-politik negara-negara industri besar ya gitu lah, banyak intrik, boong belaka…kayanya bumi mau rusak ato ancur juga ga masalah asal masih bisa ada profit untuk direguk…meskipun di satu sisi juga emg muncul beberapa aktivitas kelompok-kelompok yang mulai ngegerakin gaya-hidup jg cara-hidup yg lebih ramah terhadap lingkungan tanpa embel2 komoditi2 “go green”…
L: Global Warming itu hanya sebuah siklus seleksi alam dan cara Tuhan memberi tahu makhluk-makhluknya kalo setiap aksi akan ada reaksi.. Cepat atau lambat pasti terjadi..
Formagz: Saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya untuk membuat taman kota, bagaimana menurut kalian?
F: Kalo bener, ya bagus, kalo mau dibangun taman kota, lebih banyak ruang publik, lebih asyik. Asalkan publik ato warga kota juga bisa punya akses leluasa untuk berkegiatan di taman itu, ga dengan perizinan ke birokrasi ato aparat yang ribet, setiap orang punya hak yang sama dan ga ada dominasi kelompok tertentu ato bahkan penyusupan korporasi tertentu ke dalam ruang publik itu.
L: Taman kota saya setuju koq. Yang paling bermasalah di Indonesia ini cuma korupsi nya koq.. dari korupsi nya itu yang merembet kemana-mana, duit anggaran bikin taman kota masuk perut, duit anggaran aspal, pendidikan, transportasi, dll. Semua nya masuk perut, makanya patut mati orang-orang korup itu!
Formagz: Apakah sebaiknya biaya dari pembuatan taman kota tersebut digunakan untuk biaya pendidikan anak tidak mampu, kesehatan, kebersihan di kota Bandung?
F: Menurutku, mau agenda pembuatan taman kota ada atau tidak, yang namanya kesehatan, pendidikan anak tidak mampu, kebersihan, itu mah udah tanggung jawab negara, udah dibilang di UUD dan itu wajib hukumnya. Jadi ya seharusnya emang pemerintah udah punya agenda dan dana khusus tanpa kompromi buat hal itu.
L: Setuju sama Fuad. Ga ada alasan koq untuk menunda-nunda hal-hal di atas.. ga ada alasan sama skali.
Formagz: Kondisi sosial di kota Bandung saat ini bagaimana menurut kalian? Hampir di setiap perempatan jalan selalu ada anak jalanan/gelandangan/pengemis
F: Ya gitu aja, kondisi khas perkotaan, ada yang kaya banget, yang miskin bgt banyak.
L: Perasaan hampir di seluruh kota besar di Indonesia ada fenomena itu. Sebenernya mereka itu jadi berkah, jadi pengingat kita yang mampu. Harusnya manusia-manusia mampu, siap dan sigap untuk memberantas kemiskinan. Toh win-win solution juga koq..
Formagz: Apakah ini akibat kurangnya perhatian pemerintah? Atau seharusnya kita yang langsung bergerak mengatasi hal ini daripada menunggu tindakan dari pemerintah?
F: Kayanya selalu kurang ya, hehe…ya ga usah nunggu pemerintah juga…kita hidup kan berkelompok, pemerintah ada dimanaa, kita dimana, yang tau masalah dan cara nanganin masalah kelompok ya yang ada di kelompok itu.
L: Lakukan saja hal-hal kecil dulu, yang bisa setidaknya mengurangi beban sodara-sodara kita itu.
Formagz: Pertanyaan terakhir, seandainya salah satu dari kalian harus menjadi Walikota Bandung. Hal pertama apa yang akan dilakukan?
F: Aku gamau…kamu gimana bil (klo lu kan bukan warga bdg fi, tp jd walikota jkt aja ya, hehe)
Wuiihh, Formagz salut banget sama jawaban-jawaban Lutfi dan Fuad dari Elemental Gaze yang cerdas sekali. Jadi gak heran kenapa musik mereka unik dan cerdas karena ternyata diluar bermusik pun pemikiran dan pandangan mereka tentang hal-hal lain sangat cerdas. Mau denger lagu mereka dan tau update-update show mereka, pantengin terus Elemental Gaze di www.myspace.com/elementalgaze
(Photo by Elemental Gaze docs.)